Rabu, November 26, 2008

Let’s Blogging for Society!

Catatan Perjalanan dari Pesta Blogger 08 (part I)
Sabtu, 22 november 2008 lalu menjadi salah satu hari yang menarik bagi saya. Menarik karena saya bersama seorang teman satu kampus, Azhari, mendapat kesempatan (dengan cara mendaftar secara on-line) untuk mengikuti sebuah acara gathering para blogger dari seluruh Indonesia; “Pesta Blogger 08; Blogging for Society”. Sebenarnya agak minder juga sih awalnya, karena yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah mungkin yang akan hadir di acara ini adalah para blogger sakti, yang blognya sudah punya (lebay) jutaan pengunjung... yang sudah canggih, baik content maupun desain, blognya.. yang blognya sudah bisa menghasilkan duit yang banyak.. yang blognya di-update tiap waktu.. yang blognya udah.. udah gila kali ye.. hehehe^^.. Yah, tapi apapun yang terjadi, apapun tipe blogger yang akan saya temui di sana, pede aja lah, toh acara ini bukan untuk pamer blog, tapi untuk saling sharing dan berbagi pengalaman, makanya, kami berdua tetap nekad mengikuti acara ini.. Berikut cuplikan dari perjalanan dan pengalaman kami mengikuti Pesta Blogger 08 ini..
Informasi tentang adanya acara kumpul bareng blogger se-Indonesia ini pertama kali saya dapat dari Azhari, seorang teman se-kampus, di sekitar awal bulan oktober. Tidak langsung meng-iya-kan juga sih, cuma.. ya, setidaknya interest dulu lah.. (kalo Azhari sih, semangat banget pengen ikut). Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, analisis situasi, kondisi, juga risiko dan efek samping yang mungkin bisa timbul (?!), akhirnya saya putuskan untuk ikut. Singkat cerita, sampailah kami berdua di hari-H, kami berdua sepakat untuk berangkat bersama. Kami pun berangkat ke tempat acara ini berlangsung, gedung BPPT (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi), jalan MH Tamrin, Jakarta, dengan menggunakan KRL. Berangkat dari stasiun UI sekitar pukul 8.30. Sebelumnya kami pikir untuk mencapai jalan MH Tamrin ini kami harus turun di stasiun Gambir, namun ternyata tidak ada KRL ekonomi yang berhenti di sana, maka kami putuskan untuk turun di stasiun Gondangdia dan melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum yang lain. Ternyata, setelah kami sampai di Gondangdia, kami tinggal jalan kaki sedikit (sedikit jauh maksudnya..) untuk sampai ke jalan MH Thamrin dan gedung BPPT. Singkat cerita, akhirnya duduklah kami dalam ruang auditorium BPPT di lantai 3, tempat “pesta” ini berlangsung.

Sekitar jam 10 acara ini dimulai dan dibuka oleh mc, Panji (pembawa acara “Kena deh!”) dan (?). Kemudian, seperti biasa, pembukaan diikuiti oleh sambutan-sambutan dari orang-orang penting di acara tersebut. Yang pertama memberi sambutan adalah “Ndoro Kakung”, sang ketua panitia. Dalam sambutan beliau kali ini, beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini. Berikutnya, sambutan datang dari sorang bapak-bapak yang mengaku sebagai wakil dari menteri pariwisata, ?, yang tidak bisa hadir. Isi sambutan dari wakil menteri pariwisata ini ialah ajakan untuk mensukseskan tahun kunjungan pariwisata Indonesia 2008 (sukseskan “visit Indonesia year 2008” gitu..!). Selanjutnya, orang ketiga yang memberikan sambutan ialah Bapak Cahyana, selaku wakil Dirjen Kominfo. Agak unik menurut saya sambutan dari Bapak Cahyana ini, dia menyebutkan bahwa suasana yang terasa dalam acara pesta blogger seperti suasana dalam acara Sumpah Pemuda (emang ikut dulu pak? Hehe..) karena seakan-akan komunitas-komunitas blogger yang datang mewakli berbagai kota di Indonesia ini merepresentasikan wakil-wakil daerah yang hadir dalam Sumpah Pemuda 80 tahun lalu. Contohnya, komunitas blogger dari Kota Makassar (angingmamiri.org) beliau sebut sebagai “Jong Celebes”. Dan (akhirnya) sambutan terakhir datang dari Bapak Kusmayanto selaku menristek. Dalam pidatonya, bapak menristek ini mencoba mengulas sedikit tentang sejarah perkembangan blog dan beliaupun menyampaikan “quotes” dari bapak M. Nuh, bahwa “selama saya (Bapak M. Nuh) menjadi menteri, tidak akan ada blogger Indonesia yang ditangkap!...(mendengar ini semua peserta pesta blogger bersorak-sorai) selama dia tidak melanggar peraturan yang berlaku...(huuu..!)”. Oh ya, dalam kesempatan itu juga disinggung tentang kasus blog yang menampilkan komik “fitnah” tantang kisah Nabi Muhammad SAW. di suatu blog wordpress. Ya, nge-blog memang sarana bebas berekspresi, tapi jangan kelewatan sampe menyebarkan berita fitnah (sangat) tidak sedap yang mendiskreditkan suatu golongan tertentu donk! Harus ada etikanya dalam nge-blog! Jangan sampe kasus-kasus kekurangajaran seperti ini membuat pemerintah menetapkan batasan-batasan tertentu yang justru mematikan kreativitas positif blogger yang ada di negeri ini, betul! Dan kesempata tersebut disinggung pula peran Mas Enda (sensei-nya blogger Indonesia) sebagai orang pertama yang melaporkan hal ini ke pihak Wordpress dan akhirnya masalah ini ditengahi dengan keputusan pihak wordpress yang menutup situs kurang ajar tersebut...

to be continue...

Jumat, November 07, 2008

Siapa yang Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”. Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.” Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.” Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.” Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein


---
Cerita ini saya dapatkan dari sebuah milist yang saya ikuti, [forkom_alims@yahoogroups.com], dengan teks asli berjudul "Apakah Tuhan Pencipta Segalanya, Termasuk Kejahatan?".
Bagaimana pendpat Anda tentang cerita ini?

Minggu, Oktober 26, 2008

Mengapa Tidak Puasa?

Minggu ini kita memasuki minggu terakhir bulan Oktober, yang kebetulan tahun ini datangnya bersamaan dengan bulan Syawal, sehingga kita pun hampir satu bulan lamanya meninggalkan bulan ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan ramadhan adalah bulan dimana umat islam di seluruh dunia (termasuk Indonesia) mendapat perintah untuk shaum (puasa) yaitu menahan diri, menahan gejolak hawa nafsu yang kita miliki dengan tidak makan dan minum, mengendalikan nafsu syahwat, mengendalikan emosi, dan sebagainya (lihat buku fiqh aja dah!) dari mulai waktu subuh (subuh lho! Bukan imsak!) hingga maghrib.
Latar belakang religus masyarakat Indonesia memang kuat (meskipun klenik juga). Kehidupan dengan latar yang religius memang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat I
ndonesia. Sehingga, sedikit saja terjadi tindakan tertentu yang menyalahi atau bertentangan dengan perintah agama, ke-heboh-an bisa timbul. Dalam konteks bulan ramadhan ini, menurut saya yang paling membuat heboh ialah ketika di siang hari (apalagi di tengah teriknya sinar matahari, di saat-saat kritis, saat perut sedang lapar-laparnya, kerongkongan sedang haus-hausnya) kita melihat ada orang yang makan dan minum.. Beuh! Rasanya, begitu ingin kita menghampirinya, menegur¬nya! Lancang sekali, di saat orang sedang kelaparan dan kehausan, dia enak-enakan makan.. Apa yang menyebabkan ia melakukan itu? Banyak hal mungkin yang bisa menjadi alasannya, bisa rasional bisa tidak, bisa syar’i bisa tidak.
Nah, berikut ini ada sebuah cerpen tentang orang yang tidak melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Dalam cerpen ini ditampilkan sebuah alasan mengapa seseorang tidak melaksanakan puasa di bulan ramadhan. Alasan yang simpel mungkin. Tapi meskipun simpel, ini bisa menggelitik nurani kita yang selama ini hidup dalam kecukupan. Selain itu, cerpen ini juga akan memberikan yang membacanya perspektif lain dalam tentang mengapa seseorang tidak berpuasa, tentang apa alasan dibalik itu semua. Yah, selamat membaca aja deh! Oh ya, cerpen ini sa
ya dapat dari sebuah layanan berlangganan posting blog dari sebuah blog berisi cerpen, dan berikut alamat yang juga bisa diakses untuk membaca cerpen ini..
http://poetratandjung.sv.wordpress.com/2008/09/21/tak-perlu-ajari-kami-berpuasa/
mudah-mudahan dengan ikut menampilkan cerpen ini di blog tidak berarti saya “melanggar hak cipta” si pemilik ya! hehehehe...

ini dia cerpennya:

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa

Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya
udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak …?”


Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. “Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan …,” gumamku.
Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.
“mmm …, Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.
“Ya dik, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh
“Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.
Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.
“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.”
Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,
“Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.
“Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.
“Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”
“Jadi …,” belum sempat kuteruskan kalimatku,
“Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”
“Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.
Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar …
Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?
“Wah, nggak ada kembaliannya dik…”
“hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya …”

-----

Setelah membaca cerpen barusan, bagaimana tanggapan anda?
Yah, kalo dari sudut pandang ku secara pribadi sih, mungkin si penulis ingin menyampaikan bahwa tidak seharusnya kita secara sepihak menjudge seseorang yang tidak melakukan ibadah seperti yang kita laksanakan dengn judgement-judgement buruk atau negatif dan membuat seakan-akan kitalah pihak yang baik, yang suci, yang paling benar. Selalu ada alasan yang menjadi motif bagi tindakan yang dilakukan seseorang. Terlepas dari apakah alasan tersebut bisa diterima atau tidak, yang harusnya kita lakukan adalah tidak berperasangka buruk terlebih dahulu kepada orang tersebut dan cobalah ikut memberikan solusi bagi masalah yang dihadapinya. Seperti yang dilakukan tokoh “Aku” dalam cerpen tadi, yang memberikan uang kembaliannya untuk si abang becak agar si abang becak tersebut bisa mempersiapkan sahur dan bisa berpuasa di hari berikutnya. Betul?!