Tampilkan postingan dengan label cerita saduran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita saduran. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 05, 2010

Hidayah dan Hidangan Istimewa.


Dahulu, seorang pemuda datang dari sebuah desa terpencil untuk belajar di Universitas Al-Azhar. Ia merantau ke mesir membawa impian besar dan harapan mendalam bahwa kelak ia menjadi seorang da’I yang ikhlas membantu agama Allah, seikhlas para ulama dahulu yang kisahnya telah banyak ia baca.

Setiap pagi ia pun menghadiri pengajian yang di masjid Al-Azhar, bersama seorang Syaikh. Disitulah ia mendulang ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadists, adab, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan takzim, setiap ia duduk mendengarkan ucapan syaikh yang menyampaikan pelajaran serta petuah-petuah penuh hikmah.

Namun keadaanya berbeda sejak beberapa bulan terakhir. Kiriman uang sekadarnya dari orangtuanya yang bekerja sebagai petani di kampung tak kunjung tiba. Dan sudah beberapa hari, uang persediaanya telah habis meskipun ia telah mencoba bertahan dengan menghemat sisa uangnya.

Kebutuhan sehari-harinya mulai terganggu. Bahkan seringkali ia tidak makan seharian. Keadaan itu sering membuatnya tidak mampu berkonsentrasi penuh terhadap setiap pelajaran yang disampaikan syaikh.

Hingga di suatu hari, ia tidak bisa lagi menahan rasa lapar yang mendera perutnya. Maka, ia memutuskan meninggalkan sejenak pengajian bersama syaikh, dengan harapan di luar sana, ia dapat menemukan sepotong roti untuk mengganjal perutnya yang semakin lama semakin perih karena lapar.

Maka berjalanlah ia menelusuri jalan dan lorong di sekitar kampus Al-Azhar. Tanpa ia sadari, ia tiba di sebuah bangunan rumah yang terlihat lebih mewah dari rumah di sekelilingnya. Pintu rumah itu terbuka lebar dan tidak terlihat siapapun di dalam rumah tersebut. Pemandangan yang menggoda siapa saja untuk masuk dan menjarah harta bendanya.

Karena tidak menemukan siapapun, ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu. di ruang makan, ia mendapati hidangan yang tertata rapih di atas meja, seolah disiapkan untuk satu jamuan. Aroma makanan betul-betul menggoda selera, menggugah perutnya yang perih didera rasa lapar.

Saat akan menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya , seketika ia teringat akan nasihat Imam Asy-Syafi’I kepada Waqi’ bin Jarrah ; “karena ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya itu takkan dikaruniakan pada pelaku maksiat”.

Sungguh, memasukkan makanan haram ke dalam perut walaupun hanya secuil roti adalah bagian dari menghalangi cahaya itu. Ia percaya mustahil menggabungkan antara cahaya dan kegelapan dalam satu ruang.

Akhirnya dengan perut yang masih sangat lapar, ia memutuskan untuk kembali ke pengajian bersama syaikh.

Setelah pelajaran syaikh baru saja usai, tiba-tiba saja seorang wanita separuh baya menghampiri syaikh. Lalu keduanya terlibat pembicaraan serius.

Tak lama kemudian, syaikh memanggil sang pemuda, “wahai Abdullah, kemarilah!”

Pemuda itu pun menjawab, “ya Syaikh, kenapa tiba-tiba Syaikh memanggilku?”

“Begini, bagaimana pendapatmu jika kamu menikah?” ujar syaikh.

Dengan terkejut pemuda tersebut menukas, “apa?! Apakah syaikh sedang bercanda dengan ku? Demi Allah, aku sudah tiga hari tidak makan, mau diberi makan apa istriku nanti, wahai syaikh?”

“Dengarkanlah, sesungguhnya wanita tua ini mengeluhkan kepadaku, kalau suaminya baru saja meninggal dunia. Suaminya meniggalkannya bersama Aisyah, putri satu-satunya, dan mewarisi harta yang melimpah. Ibunya ingin segera menikahkanya dengan seorang pemuda saleh, atas pertimbanganku. Ia mebutuhkan menantu yang nantinya akan membantunya untuk mengelola harta warisan, peninggalan ayahnya. Bagaimana?”

Seakan tidak percaya, pemuda itu menjawab, “kalau demikian, baiklah wahai syaikh, terimakasih atas perhatiannya. Saya siap menikah dengannya.”

Tak berapa lama, mereka segera menuju kediaman aisyah. Dan ketika tiba mereka disana, tiba-tiba pemuda itu meneteskan air mata.

Syaikh bertanya heran; “kenapa engkau menangis Abdullah? Apakah kau merasa terpaksa menikah dengan gadis ini?”

“Bukan ya Syaikh. Bukan karena itu, tapi, belum lama ini, saya pernah memasuki rumah ini. hampir saja saya mengambil makanan yang ada di atas meja itu. Tapi, aku teringat kalau makanan itu bukanlah milikku dan aku tidak boleh memakannya tanpa seizin pemiliknya. Jika aku memakannya, itu berarti aku memasukkan makanan yang haram ke perutku. Karena itu, aku segera meninggalkannya karena takut kepada Allah”

Syaikh pun bertasbih, “ Maha Suci Allah yang pernah berfirman, ‘barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeky dari arah yang tidak disangka-sangka’ (Ath-Thalaq : 2-3).”

Akhirnya, pemuda dan gadis itu dinikahkan oleh Syaikh, disaksikan oleh ibunda gadis tersebut serta orang-orang yang mereka cintai dan cinta kepada mereka.

Subahanallah, karena kecintaannya kepada Allah, pemuda desa itu telah mendapatkan limpahan rahmat. Kini, Ia pun tidak hanya mendapatkan seorang istri, tapi juga mewarisi harta kekayaan ayah dari isterinya. Begitulah cinta yang sesungguhnya. Ketika cinta kita tujukkan semata-mata kepada Yang Maha Mencinta, maka limpahan cinta-Nya akan membuat hidup ini terasa nikmatnya. Ia akan menguatkan jiwa kita, karena sesungguhnya jiwa ini lemah ketika dalam posisi yang salah..

Indah bukan ketika cinta kita letakkan pada jalan yang diridhoi oleh-Nya?! Lantas, masihkah kita tergoda untuk mencoba meletakkan, mewujudkan, memberikan cinta kita melalui jalan atau tradisi yang justru bertentangan dengan tuntunan yang sesuai fitrah kita (Islam) ?

Wallahu’alam bi showab

(Cerita dikutip dari buku : Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama, karya Muhammad Yasir)


Kamis, Juli 23, 2009

Kenapa Bukan Aku?

Aku sangat ingin menjadi seorang astronot, sangat ingin tebang ke luar angkasa. Tapi.. aku tidak memiliki gelar dan aku bukanlah seorang pilot. Aku hanyalah seorang guru.
Harapan sempat mucul ketika Gedung Putih mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 5I-L pesawat ulang-alik Challenger. Kesempatan yang tidak boleh disiasiakan, aku pun ikut melamar. Betapa bahagianya diriku ketika amplop berlogo NASA yang berisi undangan untuk ikut seleksi aku terima. Aku terus beroda dan ternyata doaku terkabul karena aku lulus seleksi demi seleksi. Mimpi ku semakin mendekati kenyataan.
Dari 43 ribu pelamar yang kemudian disaring lagi menjadi 10 ribu orang dan akhirnya aku pun menjadi bagian dari 100 orang yang berhak mengikuti ujian tahap akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara, dan serangkaian tes lainnya. Siapakah diantara kami yang bisa melewati tahap akhir ini? “Ya Tuhan.. izinkanlah diriku yang terpilih..” lirihku dalam doa yang kupanjatkan.
Lalu tibalah hari pengumuman itu. Dan ternyata NASA memilih Christina McAufliffe. Bukan aku. Aku telah kalah. Hidupku hancur. Aku mengalami depresi, seiring dengan lenyapnya rasa percaya diriku juga kebahagiaanku. Hanya amarah yang tertinggal. “Tuhan kenapa bukan aku? Kenapa Engkau tidak berbuat adil padaku? Kenapa Engkau begitu tega menyakiti hatiku?” Aku pun menangis di pangkuan ayahku. Namun ayahku hanya berkata, “anakku, semua terjadi karena suatu alasan..”
Selasa, 28 Januari 1986. Aku berkumpul bersama teman-temanku untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati landasan pacu, aku menantang impianku untuk yang terakhir kalinya, “Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu..”. Namun tak ada yang bisa kulakukan. “Tuhan.. Kenapa bukan aku?”.
Tujuh puluh tiga detik kemudian, ternyata Tuhan menjawab semua pertanyaan dan menghapus semua keraguanku. Tujuh puluh tiga detik setelah peluncuran itu, Challenger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.
Aku teringat kata-kata Ayahku, “semua terjadi karena suatu alasan...”. Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walau aku sangat menginginkannya, karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memilki misi lain dalam hidup ini, dan aku tidaklah kalah. Aku tetap seorang pemenang. Ya aku tetap seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak.

...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah : 216)

diadaptasi dari "Rencana Allah", dalam buku Mengantar Ginjal ke Surga (Eman Sulaiman, penerbit : MadaniA Prima)

gambar: http://www.wired.com/ly/wired/news/images/full/Challenger_Launch.jpg

Jumat, November 07, 2008

Siapa yang Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”. Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.” Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.” Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.” Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein


---
Cerita ini saya dapatkan dari sebuah milist yang saya ikuti, [forkom_alims@yahoogroups.com], dengan teks asli berjudul "Apakah Tuhan Pencipta Segalanya, Termasuk Kejahatan?".
Bagaimana pendpat Anda tentang cerita ini?

Minggu, Oktober 26, 2008

Mengapa Tidak Puasa?

Minggu ini kita memasuki minggu terakhir bulan Oktober, yang kebetulan tahun ini datangnya bersamaan dengan bulan Syawal, sehingga kita pun hampir satu bulan lamanya meninggalkan bulan ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan ramadhan adalah bulan dimana umat islam di seluruh dunia (termasuk Indonesia) mendapat perintah untuk shaum (puasa) yaitu menahan diri, menahan gejolak hawa nafsu yang kita miliki dengan tidak makan dan minum, mengendalikan nafsu syahwat, mengendalikan emosi, dan sebagainya (lihat buku fiqh aja dah!) dari mulai waktu subuh (subuh lho! Bukan imsak!) hingga maghrib.
Latar belakang religus masyarakat Indonesia memang kuat (meskipun klenik juga). Kehidupan dengan latar yang religius memang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat I
ndonesia. Sehingga, sedikit saja terjadi tindakan tertentu yang menyalahi atau bertentangan dengan perintah agama, ke-heboh-an bisa timbul. Dalam konteks bulan ramadhan ini, menurut saya yang paling membuat heboh ialah ketika di siang hari (apalagi di tengah teriknya sinar matahari, di saat-saat kritis, saat perut sedang lapar-laparnya, kerongkongan sedang haus-hausnya) kita melihat ada orang yang makan dan minum.. Beuh! Rasanya, begitu ingin kita menghampirinya, menegur¬nya! Lancang sekali, di saat orang sedang kelaparan dan kehausan, dia enak-enakan makan.. Apa yang menyebabkan ia melakukan itu? Banyak hal mungkin yang bisa menjadi alasannya, bisa rasional bisa tidak, bisa syar’i bisa tidak.
Nah, berikut ini ada sebuah cerpen tentang orang yang tidak melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Dalam cerpen ini ditampilkan sebuah alasan mengapa seseorang tidak melaksanakan puasa di bulan ramadhan. Alasan yang simpel mungkin. Tapi meskipun simpel, ini bisa menggelitik nurani kita yang selama ini hidup dalam kecukupan. Selain itu, cerpen ini juga akan memberikan yang membacanya perspektif lain dalam tentang mengapa seseorang tidak berpuasa, tentang apa alasan dibalik itu semua. Yah, selamat membaca aja deh! Oh ya, cerpen ini sa
ya dapat dari sebuah layanan berlangganan posting blog dari sebuah blog berisi cerpen, dan berikut alamat yang juga bisa diakses untuk membaca cerpen ini..
http://poetratandjung.sv.wordpress.com/2008/09/21/tak-perlu-ajari-kami-berpuasa/
mudah-mudahan dengan ikut menampilkan cerpen ini di blog tidak berarti saya “melanggar hak cipta” si pemilik ya! hehehehe...

ini dia cerpennya:

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa

Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya
udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak …?”


Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. “Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan …,” gumamku.
Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.
“mmm …, Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.
“Ya dik, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh
“Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.
Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.
“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.”
Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,
“Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.
“Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.
“Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”
“Jadi …,” belum sempat kuteruskan kalimatku,
“Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”
“Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.
Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar …
Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?
“Wah, nggak ada kembaliannya dik…”
“hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya …”

-----

Setelah membaca cerpen barusan, bagaimana tanggapan anda?
Yah, kalo dari sudut pandang ku secara pribadi sih, mungkin si penulis ingin menyampaikan bahwa tidak seharusnya kita secara sepihak menjudge seseorang yang tidak melakukan ibadah seperti yang kita laksanakan dengn judgement-judgement buruk atau negatif dan membuat seakan-akan kitalah pihak yang baik, yang suci, yang paling benar. Selalu ada alasan yang menjadi motif bagi tindakan yang dilakukan seseorang. Terlepas dari apakah alasan tersebut bisa diterima atau tidak, yang harusnya kita lakukan adalah tidak berperasangka buruk terlebih dahulu kepada orang tersebut dan cobalah ikut memberikan solusi bagi masalah yang dihadapinya. Seperti yang dilakukan tokoh “Aku” dalam cerpen tadi, yang memberikan uang kembaliannya untuk si abang becak agar si abang becak tersebut bisa mempersiapkan sahur dan bisa berpuasa di hari berikutnya. Betul?!



Rabu, Juli 23, 2008

Sang Pengganti Raja

Di suatu kerajaan, tersebutlah seorang raja yang telah memasuki usia senja. Menyadari hidupnya mungkin tidak akan lama lagi berakhir, sang raja memutusakan untuk mencari orang yang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin di kerajaan tersebut.
Jika pada umunya seorang raja akan digantikan oleh keturunan atau orang-orang terdekatnya, tidak demikian dengan raja yang satu ini, ia justru hendak mengadakan sayembara untuk mencari siapa yang pantas menjadi menggantikannya memimpin kerajaan ini. Sayembara macam apakah yang diselenggarakan sang raja? Mengalahkan mahluk jahat? Memberantas kejahatan di kerajaan tersebut? Tidak! Sang raja justru membagikan sebutir biji kedelai pada setiap pemuda di kerajaan tersebut dan mengadakan sayembara “Menanam Biji”.
“Kubagian pada tiap-tiap dari kalian sebutir biji. Tanamlah, kemudian rawatlah tanaman yang tumbuh dari biji itu. Lalu, kembalilah satu tahun lagi dengan membawa tanaman tersebut. Barang siapa menunujukkan kepadaku tanaman yang terbaik, maka ialah yang akan menggatikanku menjadi raja di kerajaan ini.” Ucap sang raja dalam pidatonya.
Semua peserta sayembara terlihat antusias, sebab siapa yang nantinya akan menjadi ditentukan dari seberapa baik tanaman yang tumbuh dari biji ini, begitu pula Badu. Biji yang ia dapatkan ia tanam dan ia sirami air setiap harinya. Semakin hari terasa semakin mendebarkan menunggu munculnya tunas pertama dari tanaman tersebut. Waktupun terus berlalu, 1 minggu, 1 bulan, hingga akhirnya 6 bulan sudah berlalu, tak sepucuk tunaspun tumbuh dari sebutir biji pemberian raja yang ia tanam itu. Apakah ia kurang memberikan air dan pupuk untuk biji tersebut? Ataukah tanah pada pot tempat tanaman tersebut ditanam kurang subur? Badu sendiri tidak mengerti.
Sementara Badu masih gelisah karena tanaman indah yang diidam-idamkannya tidak kunjung tumbuh, peserta sayembara yang lain justru mulai saling membicarakan tanaman mereka yang tumbuh tinggi dan kian hari kian indah dipandang.
Akhirnya waktu 1 tahun yang diberikan raja untuk menumbuhkan biji yang ia berikan habis, tibalah hari dimana raja mengumpulkan para peserta sayembara untuk menilai siapa yang pantas menjadi pengganti dirinya berdasarkan bagaimana ia merawat tanaman yang tumbuh dari biji yang telah raja berikan.
Meskipun 1 tahun berlalu, tanaman yang ditunggu-tunggu Badu tidak kunjung tumbuh. Waktu telah habis sementara di pot miliknya tak satu tanamanpun tumbuh. Badu kehilangan hasratnya untuk datang membawa potnya ke istana. Namun sang ibu tetap medorongnya untuk datang dan menunjukkan yang sebenarnya, “ayo, jangan takut. Datanglah menghadap raja. Tunjuk­kan­­lah apa adanya..” Badupun datang ke istana.
Di istana semua peserta telah berkumpul. Masing-masing membawa pot berisi tanaman yang tumbuh dengan indah. Daunnya hijau segar, batangnya terlihat kokoh meskipun ukurannya kecil, dan bahkan beberapa diantaranya sudah memiliki bunga yang membuatnya makin elok dipandang. Rajapun memuji mereka.
“Kerja kalian luar biasa! Sungguh, bukan main indahnya tanaman yang kalian bawa.” Puji sang raja yang kemudian diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai dari hadirin di istana tersebut. “Tapi yang akan menggantikanku sebagai raja ialah dia! Orang yang berdiri di belakang itu, yang membawa pot kosong.” Ucap sang raja sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah Badu. Kali ini semua yang hadir di ruangan istana tersebut tersentak kaget, termasuk Badu. Mulut yang terbuka menunjukkan betapa kagetnya mereka. Mengapa seseorang yang “gagal” justru yang akan menjadi raja?
“Setahun yang lalu aku memberikan kepada masing-masing dari kalian sebutir biji untuk ditanam. Tapi semua biji itu telah kumasak terlebih dahulu sehingga tidak mungkin dapat tumbuh menjadi tanaman. Kalian semua kecuali Badu pasti telah mengganti biji yang kuberikan dengan biji yang lain. Hanya Badu yang dengan jujur dan berani datang kemari dengan membawa pot dengan biji yang telah kuberika setahun lalu. Karena itu Badu-lah yang kuangkat untuk menjadi penggantiku” Ungkap sang raja untuk menjawab kebingungan hadirin di ruangan itu sekaligus menegaskan alasannya memilih Badu sebagai raja selanjutnya.
Ternyata Badu tidaklah gagal, justru ia telah membuktikan dirinya berhasil menunjukkan kejujuran dan keberaniannya sebagai seorang calon pemimpin yang baik. Tidak salah kan pilihan sang raja?

Hikmah:
Dari cerita tersebut setidaknya kita akan mendapatkan 2 sifat (dari sekian banyak) yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang baik. Ya! Kejujuran dan keberanian! Seorang pemimpin yang baik haruslah seorang yang jujur, tidak menyeleweng, dan tidak pernah membohongi yang dipimpinya. Kejujuran seorang pemimpin akan menghadirkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Modal kepercayaan ini akan mendatangkan dukungan dan akhirnya berbuah pada kesejahteraan. Seorang pemimpin juga harus memiliki keberanian. Berani mengambil keputusan, berani menindak semua kejahatan dan kerusakan yang ada, berani karena benar, berani untuk jujur apa adanya, dll. Jangan lupakan pula bahwa kita semua adalah pemimpin, minimal untuk memimpin diri sendiri. Betul?!
Semoga bisa menjadi inspirasi bagi diri saya sendiri dan para pembaca sekalian. Hehehe...

Cerita disadur dari “Si Jujur dan Si Berani” dalam e-book Motivasi Net.