Selasa, Mei 19, 2009

Sembilan Belas Bait Cinta; Mencari Esensi dari Eksistensi Sejauh Ini...


Sebuah paradoks cinta mengawali kisah ini..
Ketika cinta diberikan padahal tiada yang meminta
Ketika cinta itu justru meminta dirinya dijaga, meminta dirinya diberi arti
Karena kelak cinta ini akan kembali pada pemilik sejatinya..

Matahari, bulan, dan bintang bergantian memberikan sinarnya,
Demi menyemai cinta ini, demi tubuh yang di(berikan)cinta ini
Demi waktu terus maju, demi harapan dan mimpi, cinta tumbuh..

Cinta terus tumbuh, mencari makna tentang dirinya
Mencari makna tentang cintanya..

Dan cintapun mulai memberontak menuntut kebebasannya, menuntut dirinya untuk mampu mencinta sendiri

Namun apa itu cinta?
Misteri yang berulang, terus menerus menghantui tanpa jawaban pasti
Sementara mata telah terluka dan hati tak sanggup lagi menaggung luka..
Maafkan diri ini tak sanggup lepas dari duri, hingga luka tiada jua berhenti..

Duhai pemilik cinta, sembunyikanlah cinta dari diri ini
Sembunyikanlah, simpanlah hingga siap kuterima cahaya itu.. Hingga berpendarnya jiwa ini bisa menguatkanku menemukan makna..
Hingga cinta itu tak merubah cintaku pada Mu..

Terima kasih atas cinta Mu yang telah membuatku melangkah sejauh ini..
Dengan cinta Mu, izinkanlah kulanjutkan langkah tuk temukan makna cinta yang Kauberikan.. (dalam waktu yang tersisa..)

------
gambar:
sangbintang.wordpress.com/.../

Kamis, April 16, 2009

Lihatlah.. Ke Manakah Arah Cahaya Ini?

Sedikit mencurahkan ide-ide dalam bentuk kata.. Selamat membaca, interpretasikanlah sesuka anda! hehehehe..:D

Lihatlah diriku, apakah yang kau lihat?
Jujurlah padaku, katakan apa yang kau lihat?
Adakah itu cahaya?
Adakah aku yang memancarkannya? Ataukah aku hanya memantulkannya?

Lihat kembali, pandanglah aku dari ujung hingga tepi,
Dari lubuk hati,
Jangan biarkan penampilan mengelabui
Adakah aku layak bersamamu? Bersama kalian?
Adakah aku bisa hadirkan mimpi-mimpi kalian jadi kenyataan?


Tapi taukah wahai kawan, seungguh aku bersyukur telah menemukan kalian
Taukah wahai kawan, seandainya aku tak menemukan kalian
Seandainya bukan kalian yang menemukan diriku
Seandainya kita tidak pernah dipertemukan
Akankah aku menemukan siapa diriku?
Akankah aku memiliki sayap tuk terbang memburu impianku?

Taukah wahai kawan,
Sadarkah wahai kawan?
Sadarkah bila ternyata kita sedang merajut mimpi bersama
Meskipun dalam ruang dan waktu yang berbeda,
Tapi tujuan kita sama, mimpi kita sama
Kalian telah membuatku bermimpi, dan kalian telah membuatku mengerti bagaimana caranya bermimpi,
Dan kalian telah mempertemukanku dengan para pemimpi dari belahan lain negri
Sekali lagi, ternyata kita memimpikan hal yang sama..
Dan kini, kita masih sama-sama berjuang menggapai mimpi itu...

Saat-saat indah bersama kalian tak mungkin terlupakan,
Tak mungkin ditinggalkan
Tapi di depan mata kulihat ada yang membutuhkan uluran tangan
Di tempatku berdiri (pun) mimpi-mimpi itu coba diwujudkan
Di tempatku berdiri, aku melihat dunia yang belum seindah sentuhan kalian,
Wahai kawanku..

Dibalik kenyataan aku melihat diriku yang masih hitam,
Kawanku, kalianlah yang selama ini menyinariku,
Tapi tempatku berdiri juga membutuhkan cahaya ini..
Dan kini, cahaya yang masih temaram, yang masih berdebu dan suram ini harus memilih,
Memilih untuk bersinar atau menyinari,
Bersinar perkasa laksana sang surya,
Ataukah bersinar redup demi membangkitkan pagi?

Kawanku, aku ingin tetap bersama kalian,
Bersama kalian membangkitkan pagi dengan sinar cahaya yang redup tapi indah..
Membangkitkan pagi dengan kicau merdu, tuk hadapi hari..
Tapi tempatku berdiri juga membutuhkan cahaya agar ia lebih terang lagi..

Biarlah waktu menjadi saksi,
Biarlah ku lalui sebelas purnama bersama kalian di tanah tempatku berdiri,
Hingga purnama kesebelas kulalui, lalu ku kan terbang lagi bersama kalian, wahai kawanku,
Kita kan terbang tuk bersama lagi mencerahkan pagi, menghadapi hari..
Meski bumi tak mungkin kutinggalkan..
.

Sabtu, April 11, 2009

Belajar Bersabar dan Mensyukuri Pemberian

Berikut ini sebuah cerita yang saya dapat dari teman di Facebook (di kampus juga sih..). Cerita yang cukup menyentuh lubuk hati saya pikir. Tentang banyak hal, mulai dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya, sikap anak yang sering menyakiti orang tua, tentang bagaimana menghargai pemberian orang lain apapun itu bentuknya.. dan mungkin masih banyak lagi.. sebanyak hikmah yang bisa Anda ambil dari cerita ini.. Cocok untuk bahan renungan diri..
Hehehe... Selamat membaca..

Hargailah Pemberian Seseorang
Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda, sebentar lagi dia akan Menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci !Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alqur’an yang bersampulkan kulit asli,dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan Alqur’an ini untukku ? ” Lalu dia membanting Alquran itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri Mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses,dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu.

Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ.

Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya,dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alquran itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alquran itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Alquran itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, ‘Ayah sangat mencintai dan bangga padamu nak..”

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alquran itu. Dia memungutnya,….sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir

Alquran itu,dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati……..

-----
dikutip dari "Hargailah Pemberian Seseorang", dikirim oleh Rizky Putra M. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=63949908914&ref=mf)

gambar : http://tengotengo.com/yahoo_site_admin/assets/images/gift_cert.319134810_std.jpg