Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 05, 2010

Farewell…

Saat langit gelap karena rembulan tertutup cadar kelabu awan-awan
Kuberdiri mematung menatap meratap
Menyendiri bersama gemuruh dalam diri
Andai bisa jiwa ini bersuara
Maka jiwa ini akan berteriak..

Mengapa luka baru terasa setelah pisau membelah raga
Mengapa air mata baru jatuh saat duka telah lewat masa
Mengapa diri ini justru berkhianat saat cinta bersemi dalam jiwa
Mengapa..?

Apakah gerangan yang sebenarnya terjadi?
Mimpi indah mengawali perputaran masa
Namun ayat-ayat duka menghiasi lembaran cerita..

Adakah hati yang kurang tulus dalam menjalankan titah yang mulia?
Ataukah kekosongan akal menjadi awal petaka?
Tak kutemukan jawabnya…
Yang jelas, jiwa raga ini tersiksa
Kasih pun terluka..

Maafkan aku..
Bukannya aku hendak lari saat purnama kembali sesuai janji,
Bukannya aku tega menyakiti saat kau cemas menanti

Percayalah, tanpa ku kau tetap bisa berlari
Percayalah bahwa mimpi ini tak akan pernah mati,
Dan berusahalah agar tanpa ku mimpimu takkan berhenti
Karena di sini, meskipun aku tertusuk ribuan duri
Meskipun jiwaku nyaris mati,
Aku pun aku sedang membangun mimpi
Mimpi kita bersama, tentang dunia dimana kelak bunga-bunga indah bersemi..

Roda masa kembali berputar
Langit biru kembali bersinar..
Walau awan kelabu kelak kan datang,
Berjanjilah sayap-sayap ini tidak akan rela dipatahkan..

Minggu, Oktober 18, 2009

Mencari Permata

Sejenak ku termenung, kala kutatap luka hatiku yang masih terbuka

Setetes darah mengalir diantaranya, oh.. betapa lemah sungguh diri terasa,

Air mata tumpah tak sanggup menaggung duka,

Oh.. masih adakah ruang maaf di jiwa untuk diri yang melupakan karunia?


Kembali ku ke alam fana,

Saat kutemui raja yang tidak rela akan keberadaan para pewaris tahta sesungguhnya

Pewaris tahta yang datang dengan membawa sekeping permata

Namun dusta membuatnya terlihat bagai angkara murka,

Murka boleh melanda, tapi asa tidak akan sirna

Karena jika saatnya tiba, permata inilah yang akan menyinari dunia

Menyinari dunia dalam keabadian cinta..


Sejenak ku pergi kembali, ke sebuah negeri dengan emas berkilau di setiap hamparannya

Meskipun tidak seluruhnya memancarkan cahaya, meskipun sebagian masih tertutup debu-debu angkasa,

Damai terasa di jiwa saat melihat kilaunya…

Damai terasa saat melihat para pendulangnya tersenyum mesra,

Menggugah sukma, tuk menelisik indahnya makna

Makna dari sebuah perjuangan meraih bintang yang jauh di sana,

Untuk menyinari dunia dalam keabadian cinta..


Ah, aku harus kembali lagi ke alam fana..

Aku harus kembali tuk mendulang baja demi pencarian indahnya permata,

Aku harus pergi, tapi aku akan kembali ke negeri emas ini,

Entah lusa atau di kemudian hari,,

Karena dari sini, akan ku kayuh perahuku menuju samudra dunia

Tuk kemudian terbang membelah angkasa..


Sabtu, September 26, 2009

Semua Bisa Jadi Pahlawan!


"Mencari Pahlawan Indonesia"

Penulis : Anis Matta

Penerbit : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.

Filosofi

Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.

Trilogi Dunia

Ya, pahlawan adalah seorang manusia biasa. Manusia biasa yang tentunya tidak akan lepas dari ujian Allah SWT yang terangkum dalam “trilogi dunia”; harta, tahta, dan wanita. Namun, ketika semua itu dihadapi dengan kesabaran, “trilogi dunia” dapat menjadi sumber kekuatan yang akan terus menyalakan api kepahlawanan dalam diri seseorang.

Wanita adalah sosok yang penting bagi seorang pahlawan, yang menempati ruang yang begitu luas dalam jiwa seorang pahlawan. Wanita memiliki kekuatan berupa kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang yang mampu menjadikannya penjaga spiritual dan sandaran emosi bagi sang pahlawan. Dari sosok seorang wanita inilah pahlawan dapat memperoleh kekuatan, ketenangan, kenyamanan, keamanan, dan keberanian dalam memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Salah satu contoh nyata dari peran penting seorang wanita bagi seorang pahwalan adalah kisah Khadijah yang menguatkan hati suaminya, Nabi Muhammad SAW, yang merasakan ketakutan luar biasa saat menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Jika wanita berperan dalam pembentukan jiwa pahlawan, maka untuk mewujudkan kepahlawanannya seorang pahlawan memerlukan sumber daya berupa harta. Harta bagi seorang pahlawan adalah sarana agar kepahlawanannya bisa diwujudkan di dunia materi (nyata) ini. Untuk itu, setiap pahlawan harus memaknai pengorbanan sebagai energy dari ke-zuhud-an. Energi yang akan membuat setiap pahlawan tidak nervous ketika berhadapan dengan harta dunia sehingga harta tidak pernah menemukan jalan menuju hati mereka dan akhirnya harta tersebut mampu untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

Satu bagian lagi dari trilogy dunia para pahlawan adalah “tahta”. Ibnu Qoyyim Al- Jauziah pernah berkata, “ Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia. Yang ku temukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat yang paling kuat dalam diri manusia adalah syahwat kekuasaan”. Tahta atau kekuasaan, berikut besarnya dorongan maupun godaan dibaliknya, bak dua mata pisau. Satu sisi mampu menjadi sarana untuk pahlawan mewujudkan kepahlawanannya (seperti halnya harta) namun di sisi lain tahta mampu menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan dan bisa merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri. Oleh karena itu setiap pahlawan harus menempatkan tahta sebagai sarana, bukan sebagai tujuan.

Aspek-aspek kepahlawanan

Trlogi dunia merupakan anugerah sekaligus ujian bagi para pahlawan. Anugerah jika mampu menjadikannya sebagai sarana, bukan tujuan. Menjadikannya dalam genggaman, bukan dalam hati. Apa yang membuat para pahlawan mampu melakukan hal tersebut? Selain keikhlasan dalam berbuat, factor penting lainnya adalah terasahnya aspek-aspek kepahlawanan dalam diri, yang meliputi keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.

Setiap pahlawan merupakan seorang pemberani. Pemberani tidaklah sama dengan nekad, menjadi pemberani adalah menjadi seseorang yang sepenuhnya maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dengan menyadari sepenuhnya kemungkinan resiko yang akan diterima. Keberanian tidak akan optimal tanpa kesabaran. Atau dengan kata lain, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Keduanya saling berkaitan karena kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan dan sekuat apa pahlawan mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Aspek lain yang juga penting dalam kepahlawanan adalah pengorbanan. Pahlawan mendapatkan “gelarnya” karena begitu banyak hal telah ia korbankan atau berikan pada masyarakatnya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, kesabaran.

Kesimpulan

Pahlawan sesungguhnya adalah hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan demikian, setiap diri kita punya potensi untuk menjadi seorang pahlawan. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi-potensi tersebut menjadi sarana dalam mewujudkan kepahlawanan serta tetap menjaga keikhlasan dalam berjuang.


* Tulisan ini juga bisa dilihat di Albinadigital.wordpress.com

* Terimakasih kepada Yoga (biologi UI 08) yang sudah meminjamkan buku ini. Terimakasih juga buat Zie, Marsha, Puji, & Edoy (psikologi UI 08) atas kerjasamanya dalam meeringkas isi buku ini sebelumnya, hehehe...

Senin, Juli 20, 2009

Di Balik Tirai Awan..

Siang ini sang surya bersinar perkasa
Siang ini ribuan jiwa terlahir ke alam fana
Dan mulai siang ini awan yang kan menaungi jiwa-jiwa itu berbeda..

Ada awan yang teduh melindungi
Ada pula yang kelam, badaipun membayangi
Namun itulah hari-hari yang harus dilewati..


Kita tidak pernah mengetahui apa yang ada dibalik awan
Tak pernah tahu..
Sampai sayap-sayap jiwa mampu terbang menembusnya
Atau sampai awan-awan itu justru turun menghampiri jiwa
Sebagai air yang kadang serupa air mata

Lindungan awan telah memberi bentuk pada jiwa
Teduhnya menyejukkan
Derai air matanya menumbuhkan harapan

Namun, tenangnya jiwa takkan datang bersama..

Bersyukurlah wahai jiwa-jiwa yang telah menemukan ketenagannya
Tentu bukan tenang dalam kehampaan yang kaucari
Tentunya ketenangan yang menentramkan jiwalah tujuanmu..

Bersujudsyukurlah wahai jiwa pada penguasa langit dan bumi
Pada penguasa yang menerangi birunya langit dengan nyala api semangat
Pada penguasa yang menyinari gelapnya langit dengan indahnya pelita cinta..

Dan bersujud pula lah wahai jiwa yang masih mengembara
Mengembara sampai jiwa siap terbang menembus awan untuk menemukan kedamaian
Bersujudlah demi romansa jiwa yang tak akan terlupa
Yang belum tersingkap dari balik tirai awan di sana..


gambar : http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2007/Merliana%20Aryani/300px-Awan.jpg

Jumat, Juni 05, 2009

Sembilan Belas Bait Cinta (II); Jiwa yang Merintih..

Dalam gelap kucoba bermunajat
Dalam sunyi kucoba menyendiri, mencari sumber rasa sakit ini
Keheningan membuatku terhanyu
t, hanyut dalam tangis
Mengapa semakin lama semakin menyakitkan

Inikah akibat membiarkan luka terus terbuka?
inikah akibat dari menikmati luka?

Bodoh! Kenapa kau tidak lari dan pergi saja?
Buat apa luka itu kau nikmati?
Buat apa pedih itu kau hayati?
Tak sadarkah kau, bukan hanya dirimu saja yang terluka?
Tak sadarkah kau, langitpun terluka karena kau berharap melukainya?

Sadarlah, obat untuk lukamu itu masih terjaga, obat itu ada di hatimu...
Obat itu adalah jiwamu.. jiwamu yang pasrah pada cinta Yang Agung..

Esok pagi, lupakanlah luka itu..
Lupakan dengan mengejar cahaya hidupmu..
Bangun kembali mimpimu, kepakkan kembali sayap-sayapmu,
Terbanglah tinggi, menembus realita..
Terbanglah membelah birunya langit, menembus gelapnya angkasa,
Karena itulah cinta untukmu...



gambar: http://www.timswineblog.com/~ASSETS/IMG/upload/blue-sky.jpg

Selasa, Mei 19, 2009

Sembilan Belas Bait Cinta; Mencari Esensi dari Eksistensi Sejauh Ini...


Sebuah paradoks cinta mengawali kisah ini..
Ketika cinta diberikan padahal tiada yang meminta
Ketika cinta itu justru meminta dirinya dijaga, meminta dirinya diberi arti
Karena kelak cinta ini akan kembali pada pemilik sejatinya..

Matahari, bulan, dan bintang bergantian memberikan sinarnya,
Demi menyemai cinta ini, demi tubuh yang di(berikan)cinta ini
Demi waktu terus maju, demi harapan dan mimpi, cinta tumbuh..

Cinta terus tumbuh, mencari makna tentang dirinya
Mencari makna tentang cintanya..

Dan cintapun mulai memberontak menuntut kebebasannya, menuntut dirinya untuk mampu mencinta sendiri

Namun apa itu cinta?
Misteri yang berulang, terus menerus menghantui tanpa jawaban pasti
Sementara mata telah terluka dan hati tak sanggup lagi menaggung luka..
Maafkan diri ini tak sanggup lepas dari duri, hingga luka tiada jua berhenti..

Duhai pemilik cinta, sembunyikanlah cinta dari diri ini
Sembunyikanlah, simpanlah hingga siap kuterima cahaya itu.. Hingga berpendarnya jiwa ini bisa menguatkanku menemukan makna..
Hingga cinta itu tak merubah cintaku pada Mu..

Terima kasih atas cinta Mu yang telah membuatku melangkah sejauh ini..
Dengan cinta Mu, izinkanlah kulanjutkan langkah tuk temukan makna cinta yang Kauberikan.. (dalam waktu yang tersisa..)

------
gambar:
sangbintang.wordpress.com/.../

Kamis, April 16, 2009

Lihatlah.. Ke Manakah Arah Cahaya Ini?

Sedikit mencurahkan ide-ide dalam bentuk kata.. Selamat membaca, interpretasikanlah sesuka anda! hehehehe..:D

Lihatlah diriku, apakah yang kau lihat?
Jujurlah padaku, katakan apa yang kau lihat?
Adakah itu cahaya?
Adakah aku yang memancarkannya? Ataukah aku hanya memantulkannya?

Lihat kembali, pandanglah aku dari ujung hingga tepi,
Dari lubuk hati,
Jangan biarkan penampilan mengelabui
Adakah aku layak bersamamu? Bersama kalian?
Adakah aku bisa hadirkan mimpi-mimpi kalian jadi kenyataan?


Tapi taukah wahai kawan, seungguh aku bersyukur telah menemukan kalian
Taukah wahai kawan, seandainya aku tak menemukan kalian
Seandainya bukan kalian yang menemukan diriku
Seandainya kita tidak pernah dipertemukan
Akankah aku menemukan siapa diriku?
Akankah aku memiliki sayap tuk terbang memburu impianku?

Taukah wahai kawan,
Sadarkah wahai kawan?
Sadarkah bila ternyata kita sedang merajut mimpi bersama
Meskipun dalam ruang dan waktu yang berbeda,
Tapi tujuan kita sama, mimpi kita sama
Kalian telah membuatku bermimpi, dan kalian telah membuatku mengerti bagaimana caranya bermimpi,
Dan kalian telah mempertemukanku dengan para pemimpi dari belahan lain negri
Sekali lagi, ternyata kita memimpikan hal yang sama..
Dan kini, kita masih sama-sama berjuang menggapai mimpi itu...

Saat-saat indah bersama kalian tak mungkin terlupakan,
Tak mungkin ditinggalkan
Tapi di depan mata kulihat ada yang membutuhkan uluran tangan
Di tempatku berdiri (pun) mimpi-mimpi itu coba diwujudkan
Di tempatku berdiri, aku melihat dunia yang belum seindah sentuhan kalian,
Wahai kawanku..

Dibalik kenyataan aku melihat diriku yang masih hitam,
Kawanku, kalianlah yang selama ini menyinariku,
Tapi tempatku berdiri juga membutuhkan cahaya ini..
Dan kini, cahaya yang masih temaram, yang masih berdebu dan suram ini harus memilih,
Memilih untuk bersinar atau menyinari,
Bersinar perkasa laksana sang surya,
Ataukah bersinar redup demi membangkitkan pagi?

Kawanku, aku ingin tetap bersama kalian,
Bersama kalian membangkitkan pagi dengan sinar cahaya yang redup tapi indah..
Membangkitkan pagi dengan kicau merdu, tuk hadapi hari..
Tapi tempatku berdiri juga membutuhkan cahaya agar ia lebih terang lagi..

Biarlah waktu menjadi saksi,
Biarlah ku lalui sebelas purnama bersama kalian di tanah tempatku berdiri,
Hingga purnama kesebelas kulalui, lalu ku kan terbang lagi bersama kalian, wahai kawanku,
Kita kan terbang tuk bersama lagi mencerahkan pagi, menghadapi hari..
Meski bumi tak mungkin kutinggalkan..
.

Rabu, Januari 07, 2009

Untukmu Saudaraku

Awan kelabu belum juga beranjak pergi dari tempat saudaraku nun jauh di sana,
Ini memang pertanda hujan, tapi bukan air, ini hujan api
Api-api yang keluar dari burung-burung besi yang otaknya termakan ide-ide keji tidak tau diri!
Burung-burung besi yang tuan-tuanya telah merobek-robek nilai-nilai kemanusiaan demi sebuah cita-cita tiada berdasar..

Hujan api kini telah mengakibatkan bajir darah dan air mata,
Di tempat lain, di tempat yang masih memiliki nurani, banjir manusia berusaha menujukkan simpati..
Tapi nurani ini pun kian lama kian perih,
Karena burung-burung yang keji itu belum puas menumpahkan darah,
Burung-burung itu masih ingin memenuhi hasrat tuan-tuanya untuk melihat kehancuran..

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Belum puas burung-burungmu merenggut jiwa-jiwa belia dan yang tiada berdosa, kini kau juga kerahkan badak-badakmu tuk memangsa lebih banyak jiwa,

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Tertutup sudah sisi manusia dari diri kalian! Kalian bukan lagi manusia!
Manusia bukanlah pendendam, hanya iblis yang membalas dendam!
Manusia punya perasaan, tidak akan melakukan ketidakadilan!
Manusia punya hati, tidak akan melanggar ucapan sendiri!

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Kau tutup mata hati saudara-saudara kami yang lain dari kekejian yang kau lakukan
Kau cuci otak saudara-saudara kami yang lain untuk tak acuh pada kenyataan
Kau sibukkan saudara-saudara kami yang lain hingga hilang rasa kepedulian,
Dasar kalian, iblis!

Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, aku ingin turut dalam barisan kalian yang masih memiliki hati
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, mari kita hidupkan pula hati-hati saudara kita yang masih tertutupi
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, nilai-nilai yang kita miliki pastinya ikut menentang agresi ini dan nilai-nilai yang kita miliki pasti berpihak pada yang terdzalimi,
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, mari kita bantu saudara kita yang bersimbah darah di sana, yang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan!
Mari kita bantu dengan bantuan yang sesuai, Mari kita bantu dengan bantuan yang proporsional..

Aku yakin saudara-saudara kita yang berjuang akan menang
Aku yakin simpati yang kita berikan akan meningkatkan daya juang
Aku yakin doa yang kita panjatkan akan memberikan kekuatan...

Saudara-saudaraku yang sedang berjuang, jangan menyerah pada penindasan,
Saudara-saudaraku, jangan takut akan kekuatan senjata mereka,
Saudara-saudaraku, yakinlah akan kekuatan kalian, karena kalian memiliki ke-tauhid-an,
Saudara-saudaraku, kami akan mendukungmu semampu kami,
Kami akan mendoakan perjuanganmu di setiap sujud kami
Kami akan selalu mendukung dan mendoakan kalian,
Karena kalian adalah saudara kami..

Minggu, Januari 04, 2009

Sebuah Catatan Perjuangan

Tetes air membasahi bumi
Mengiriingi awal penulisan kisah dalam bab ini
Kisah yang kutulis kala mata terpejam
Tuk mengkhayal mimpi nan menghujam

Meskipun penuh tanda tanya, meskipun akhir adalah misteri
Kerasnya asa membuat tinta tetap menari
Menari dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan
Memanjatkan doa-doa pengharapan

Bait demi bait, sambil ku tatap langit
Kumulai roman cita ini dengan sebuah mimpi
Mimpi tentang kisahku di bumi ini
Kisah yang menuntunku supaya ku tak mati sebagai penyakit

Kisah terus mengalir
Dengan aliran perjuangan dan doa
Dengan aliran semangat dan cinta
Dengan bumbu suka dan duka
Tiada putus cerita mengalun, tiada putus mimpi di mata

Akhirnya tiba saat bertarung
Hati menggebu menangis ragu
Hampir mustahil mimpi tercipta
Nyaris asa tiada berdaya
Namun, masih ada Yang Maha Kuasa,
Kuatkan genggaman, yakinkan perasaan
Dia takkan kecewakan hamba yang berharap padaNya

Dan bait-bait indahpun mengalun
Indah, membuat tertegun
Indah mengalun damai, meredam api dalam diri
Kini, saatnya ikhlas menyerahkan diri
Saatnya ikhlas bertarung demi impian yang tak akan terkubur

Perangpun usai, daya telah habis hingga ke nadir
Tak mampu lagi aku bertarung, tak ada lagi yang bisa kulakukan
Kecuali bait-bait indah dan doa yang mengalun
Tinggal kini serahkan diri pada ketetapan di langit

Pena dan tinta ini masih menari
Menari lembut menulis catatan kisah seorang pejuang
Tiada berhenti menari hingga akhirnya kisah ini dapat ditutup dengan syukur
Dan segala puji bagi yang berkuasa di langit
Kisah ini pun akhirnya dapat kututup dengan syukur dan cita
Tapi pena kan terus menari, menuliskan kisahku hingga akhir nanti
Demikianlah kisah bab ini kutulis
Hanyalah salah satu bab dari berjilid-jilidnya kisah kehidupan
Inilah salah satu goresan tinta yang berkilau dalam kisahku
Kisah yang kumulai dengan cita dan doa
Kisah yang kuisi dengan perjuangan, doa, dan harapan
Kisah yang kuakhiri dengan cita dan syukur

Telah kuakhiri satu bab ini dengan puji syukur
Tapi sesingguhnya perjalanan ini belumlah berakhir
Pena ini masih terus menari
Karena mimpi yang sesungguhnya masih diperjuangkan
Karena mimpi yang abadi masih belum terwujud
Demikinlah kisah sebuah mimpi kecil untuk mencapai mimpi yang abadi

Dan lembaran kisah baru telah siap tuk dituliskan...

Jumat, Desember 05, 2008

Be Thankful...

Be thankful that you don't already have everything you desire,
if you did, what would there be to look forward to?

Be thankful that you don't know something,

it gives you opportunity to learn

Be thankful for the difficult times,

during those times you grow

Be thankful for your limitations,
because they give you oppurtunities for improvement

Be thankful for each new challange,
because it will build your strength and character

Be thankful for your mistakes,
they will teach you valuable lessons

Be thankful when you tired and weary,
because it means you've made a difference,

it's easy to be thankful for the good things,
a life of rich fullfilment comes to those who are also thankful for they setbacks,

gratitude can turn a negative into positive,
find a way to be thankful for your troubles... and they will become your blesing...

---
dikutip dari:
Hidup Untuk Hidup, Masrukhul Amri; DAR MIzan

Kamis, Agustus 14, 2008

Kuburan Seorang Pahlawan

Laila, nenek sudah datang tuh...”
“Oh iya, ya sudah, teman-teman kami pulang dulu ya! Sampai bertemu lagi besok..”
Laila dan sepupunya Candra segera berlari meninggalkan teman-temannya menuju gerbang sekolah mereka, Sekolah Dasar Negeri 1, sekolah dasar yang bebas biaya apapun dengan kualitas bertaraf internasional. Di gerbang sekolah itu nenek mereka, Nenek Nur, baru saja tiba dan kini beliau sedang celingukan mencari kedua cucunya yang manis itu. Kemudian tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan kedua cucunya itu.
“Nenek.. nenek..!!”
“Aha.. ini dia dua cucu kesayangan nenek, duuh.. Bagaimana sekolah kalian hari ini?” Ucap Nenek Nur yang kemudian diiringi dengan pelukan dan kecupan manis ke kening kedua cucu kesayangannya itu.
“Wah, seru banget tadi nek! Tadi kita belajar sejarah Indonesia!!” seru Candra bersemangat.
“Iya nek, tadi bu guru cerita betapa hebatnya perjuangan para pahlawan kita merebut kemerdekaan dulu. Wah, Laila jadi kagum banget sama mereka-me­reka nek! ingin rasanya bisa menjadi pahlawan seperti mereka. Sayangnya, kini kita sudah merdeka, tidak ada lagi penjajahan..” sambut Laila yang tidak kalah bersemangat namun sedikit kecewa.
“Betul nek, sekarang ini kita tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk mengusir penjajah. Padahal, itu kan keren banget nek..” Lanjut Candra.
“Eh,
“Hmm.. Sepertinya kita tidak bisa langsung pulang hari ini. Kalian harus ikut nenek dulu..” Nenek menaggapi ucapan kedua cucunya tadi.
“Wah, mau ke mana kita nek?” Tanya Candra penasaran.
“Sudah, ikut saja. Nenek akan menunjukkan pada kalian bahwa pahlawan tidak hanya orang yang mengangkat senjata untuk mengusir penjajah.” Jawab nenek menanggapi cucunya yang cerewet ini.
Mereka bertiga pun berjalan ke arah stasiun monorail yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Setelah membeli karcis, mereka bertiga naik dan duduk berjejer. Kereta monorail pun berjalan. Nenek, Laila, dan Candra melanjutkan perbincangan mereka mengenai pahlawan dalam kenyamanan perjalanan dengan kereta monorail dan sikap para penumpang lain yang ramah dan bersahaja yang kemudian ikut meramaikan perbincangan antara Nenek, Laila dan Candra. Tak terasa, tibalah mereka bertiga di stasiun yang dituju. Setelah turun, mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah daerah yang agak ramai, seperti sebuah alun-alun kota, namun di dekat situ ternyata ada sebuah kompleks pemakaman. Dan tempat yang mereka tuju adalah kompleks pemakaman tersebut.
“Kenapa nenek mengajak kami ke tempat ini?” Laila bertanya.
“Ayo, Nenek tunjukkan orang-orang yang nenek anggap juga seorang pahlwan..”
Mereka bertiga berjalan sedikit ke arah pojok kiri kompleks pemakaman yang damai namun jauh dari kesan seram tersebut dan kemudian mereka berhenti setelah nenek berhenti dan menunjuk ke arah salah satu makam.
“Beliau yang terbaring di sini ialah kawan nenek ketika kuliah dulu. Semasa hidupnya beliau adalah seorang ahli yang menghasilkan banyak karya di bidang pendidikan dan beliaulah yang memulai revolusi di dunia pendidikan di negeri ini sehingga pendidikan bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat, kualitas pendidikan di negeri ini bisa maju, dan akhirnya kesejahteraan masyarakatpun berangsur-angsur membaik.” Kenang nenek.
Nenek tersenyum melihat kedua cucunya yang tampaknya bingung setelah mendengar cerita darinya. Kemudian nenek menekuk kakinya supaya bisa berdiri sejajar dengan cucu-cunya kemudian mengusap kepala kedua cucunya itu.
“Yah, mungkin kalian belum bisa mengerti apa yang nenek bilang tadi. Namun yang jelas, mulai saat ini berjanjilah untuk belajar sebaik mungkin dan tidak menyianyiakan setiap kesempatan belajar yang ada. Tuntutlah ilmu yang menurut kalian paling cocok untuk kalian, kemudian gali ilmu tersebut sedalam-dalamnya, berusahalah menjadi yang terbaik, kemudian amalkan ilmu yang kalian dapat untuk kepentingan masyarakat luas. Maka ilmu yang kalian kumpulkan tadi akan banyak bermanfaat. Kalian juga akan mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan kemajuan yang sudah didapat negeri ini lebih jauh lagi. Dan pada akhirnya, kalian akan menjadi seorang pahlawan..” Lanjut nenek menaggapi kebingungan kedua cucunya.
“i.. iya nek, kalau begitu mulai sekarang kami berjanji akan mencari ilmu sebanyak mungkin agar bisa memanfaatkannya untuk kepentingan orang banyak..”
“iya nek, betul apa yang dibilang Laila. mulai saat ini kami akan berusaha menjadi seorang pahlawan bagi negeri ini dengan belajar sebaik mungkin dan memanfaatkan ilmu kami seluas-luasnya. Terima kasih nek..”
“Hmm.. itu baru namanya cucu nenek! Ayo, sebelum kita pulang, mari kita mendoakan terlebih dahulu para pahlwan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari pada penjajah sejak ratusan tahun lalu sehingga kita bisa hidup bahagia seperti sekarang ini..”
Mereka bertiga berdoa dengan khusyu, dan tidak lama kemudian mereka bertiga pun pulang.
---
Setting cerita ini ialah tahun 2056. Bisa dibilang saat itu adalah era keemasan bagi bangsa Indonesia. Setelah 116 tahun merdeka dari penjajahan secra fisik dan setelah 43 tahun merdeka dari semua bentuk penjajahan secara tidak langsung. Pemerintahan bersih dari korupsi, pelayanan publik yang ter-manage dengan baik, pendidikan gratis dan bermutu baik, kemudahan akses pelayanan kesehatan, stabilitas politik dan ekonomi yang mapan terjaga, kehidupan masyarakat yang sejahtera, industri yang maju pesat, neraca perdagangan surplus, pemabangunan yang merata sesuai kebutuhan daerah, hutan, lingkungan, kekayaan alam yang terjaga dan termenej dengan baik, serta berbagai kriteria untuk menyebut negara tersebut sebagai “negara maju” telah terpenuhi.
---

Minggu, Mei 04, 2008

Kisah 4 Lilin

Di dalam suatu ruangan, ada 4 lilin menyala, namun sedikt demi sedikit keempatnya mulai meleleh. Ruangan tersebut mulai gelap dan suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan diantara keempat lilin itu,

Lilin pertama berkata,
“Aku adalah lilin kedamaian. Namun manusia tak mampu menjagaku, jadi lebih baik mematikan diri saja!” Setelah itu sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Lilin kedua berkata,
“Aku adalah lilin keyakinan. Sayang, aku tidak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala...” Sesaat setelah ia selesai bicara, tiupan angin memadamkan dirinya.
Melihat hal itu, Lilin ketiga kini angkat bicara, dengan sedih ia berkata,
“Aku adalah lilin cinta, tak mampu lagi aku tetap menyala, manusia tak lagi memandangku dan tak lagi menganggapku berguna. Mereka saling membenci! Bahkan membenci mereka yang mencintainya!” Tidak lama waktu berselang, matilah lilin ketiga.

Tiba-tiba...
Seorang anak masuk ke ruangan tersebut, dan ia melihat dari keempat lilin yang ada, tiga diantaranya sudah padam,
“Apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala! Aku takut akan kegelapan...” Iapun menangis tersedu-sedu.
Terharu melihat si anak menangis, Lilin keempat kemudian berkata,
“Jangan takut! Jangan menagis... selama aku masih menyala, kita masih bisa menyalakan ketiga lilin lainnya, karena aku adalah lilin HARAPAN...”
Mendengar itu, si anak bangkit, ia menyeka air matanya, kemudian ia mengambil sang lilin harapan, lalu menyalakan ketiga lilin yang sebelumnya telah padam.
-----

Selama kita masih punya HARAPAN, kita bisa membangkitkan kemballi KEYAKINAN, KEDAMAIAN, dan CINTA di dalam hati kita.
Jangan pernah berhenti berharap! Karena selama kita masih memiliki harapan, hari esok akan selalu ada!

Cerita disadur dari:
10 Jurus Sakti Agar Motivasi Tidak Pernah Mati; Arif Dahsyat; Jakarta: MAD Publishing.

(080501:19.01)

Minggu, April 27, 2008

Bulan Purnama di Senja Hari...

(tulisan berikut ini bisa dibilang dua buah puisi...)

-----

Senja hari

Ketika langit berhenti menangis
Ketika sang surya hampir pergi
Pergi bersama burung-burung kembali ke peraduannya

Ketika itu, aku menatap atap dunia
Merah, merona
Dihiasi juntaian selendang bidadari-bidadari kayangan

Ketika itu kuteringat akan dirinya
Dirinya yang telah pergi
Pergi meninggalkan diriku
Bersama kenangan seindah pelangi
Bersama luka semerah langit ini

Oh lembayung senja,
Betapa cantik kulihat dirimu
Betapa anggun pelangi membelaimu
Oh, betapa inginnya aku bertemu lagi denganmu
Melihat rona indah merahmu
Melihat kilau senyum pelangimu..

-----

Bulan purnama

Aku berbaring di rerumputan
Kurebahkan diriku diantara warna hijau kehitaman
Kehitaman karena langitpun hitam

Lalu kubuka mataku
Kumenatap ke hitamnya atap dunia
Kuhela nafasku dalam-dalam
Kurasakan dingin merasuki tubuhku
Dingin, namun aku merasakan kedamaian
Aku merasakan keindahan di balik kegelapan

Lalu kulihat dirimu disana,
Bersama bintang-bintang kautersenyum padaku
Akupun membalas senyumanmu

Senyummu menerangi jiwaku
Menerangi kembali jiwa yang mati,
Membangkitkan kembali harapan yang terkubur
Menyatukan kembali mimpi yang terberai...

Wahai pemilik senyuman indah,
Meskipun senyum bintang-bintang tak kalah indahnya,
Tapi senyumulah yang selalu hadir dalam mimpiku
Menerangi jiwaku, mengantarku melewati kegelapan ini

Oh pemilik senyuman putih dan suci,
Bisakah kita bertemu kembali esok malam?

Aku ingin melihatmu tersenyum lagi,
Karena cuma itu yang mungkin aku lakukan...


-----

Puisi-puisi di atas sebnarnya dua dari beberapa puisi yang saya buat untuk menyelesaikan tugas pelajaran bahasa indonesia,tugas membuat puisi tentang keindahan alam. Bagaiamana menurut Anda, apakah puisi-puisi tadi cocok untuk menggambarkan keindahan alam??

Hwehehee....