Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjuangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Oktober 18, 2009

Mencari Permata

Sejenak ku termenung, kala kutatap luka hatiku yang masih terbuka

Setetes darah mengalir diantaranya, oh.. betapa lemah sungguh diri terasa,

Air mata tumpah tak sanggup menaggung duka,

Oh.. masih adakah ruang maaf di jiwa untuk diri yang melupakan karunia?


Kembali ku ke alam fana,

Saat kutemui raja yang tidak rela akan keberadaan para pewaris tahta sesungguhnya

Pewaris tahta yang datang dengan membawa sekeping permata

Namun dusta membuatnya terlihat bagai angkara murka,

Murka boleh melanda, tapi asa tidak akan sirna

Karena jika saatnya tiba, permata inilah yang akan menyinari dunia

Menyinari dunia dalam keabadian cinta..


Sejenak ku pergi kembali, ke sebuah negeri dengan emas berkilau di setiap hamparannya

Meskipun tidak seluruhnya memancarkan cahaya, meskipun sebagian masih tertutup debu-debu angkasa,

Damai terasa di jiwa saat melihat kilaunya…

Damai terasa saat melihat para pendulangnya tersenyum mesra,

Menggugah sukma, tuk menelisik indahnya makna

Makna dari sebuah perjuangan meraih bintang yang jauh di sana,

Untuk menyinari dunia dalam keabadian cinta..


Ah, aku harus kembali lagi ke alam fana..

Aku harus kembali tuk mendulang baja demi pencarian indahnya permata,

Aku harus pergi, tapi aku akan kembali ke negeri emas ini,

Entah lusa atau di kemudian hari,,

Karena dari sini, akan ku kayuh perahuku menuju samudra dunia

Tuk kemudian terbang membelah angkasa..


Sabtu, September 26, 2009

Semua Bisa Jadi Pahlawan!


"Mencari Pahlawan Indonesia"

Penulis : Anis Matta

Penerbit : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.

Filosofi

Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.

Trilogi Dunia

Ya, pahlawan adalah seorang manusia biasa. Manusia biasa yang tentunya tidak akan lepas dari ujian Allah SWT yang terangkum dalam “trilogi dunia”; harta, tahta, dan wanita. Namun, ketika semua itu dihadapi dengan kesabaran, “trilogi dunia” dapat menjadi sumber kekuatan yang akan terus menyalakan api kepahlawanan dalam diri seseorang.

Wanita adalah sosok yang penting bagi seorang pahlawan, yang menempati ruang yang begitu luas dalam jiwa seorang pahlawan. Wanita memiliki kekuatan berupa kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang yang mampu menjadikannya penjaga spiritual dan sandaran emosi bagi sang pahlawan. Dari sosok seorang wanita inilah pahlawan dapat memperoleh kekuatan, ketenangan, kenyamanan, keamanan, dan keberanian dalam memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Salah satu contoh nyata dari peran penting seorang wanita bagi seorang pahwalan adalah kisah Khadijah yang menguatkan hati suaminya, Nabi Muhammad SAW, yang merasakan ketakutan luar biasa saat menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Jika wanita berperan dalam pembentukan jiwa pahlawan, maka untuk mewujudkan kepahlawanannya seorang pahlawan memerlukan sumber daya berupa harta. Harta bagi seorang pahlawan adalah sarana agar kepahlawanannya bisa diwujudkan di dunia materi (nyata) ini. Untuk itu, setiap pahlawan harus memaknai pengorbanan sebagai energy dari ke-zuhud-an. Energi yang akan membuat setiap pahlawan tidak nervous ketika berhadapan dengan harta dunia sehingga harta tidak pernah menemukan jalan menuju hati mereka dan akhirnya harta tersebut mampu untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

Satu bagian lagi dari trilogy dunia para pahlawan adalah “tahta”. Ibnu Qoyyim Al- Jauziah pernah berkata, “ Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia. Yang ku temukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat yang paling kuat dalam diri manusia adalah syahwat kekuasaan”. Tahta atau kekuasaan, berikut besarnya dorongan maupun godaan dibaliknya, bak dua mata pisau. Satu sisi mampu menjadi sarana untuk pahlawan mewujudkan kepahlawanannya (seperti halnya harta) namun di sisi lain tahta mampu menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan dan bisa merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri. Oleh karena itu setiap pahlawan harus menempatkan tahta sebagai sarana, bukan sebagai tujuan.

Aspek-aspek kepahlawanan

Trlogi dunia merupakan anugerah sekaligus ujian bagi para pahlawan. Anugerah jika mampu menjadikannya sebagai sarana, bukan tujuan. Menjadikannya dalam genggaman, bukan dalam hati. Apa yang membuat para pahlawan mampu melakukan hal tersebut? Selain keikhlasan dalam berbuat, factor penting lainnya adalah terasahnya aspek-aspek kepahlawanan dalam diri, yang meliputi keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.

Setiap pahlawan merupakan seorang pemberani. Pemberani tidaklah sama dengan nekad, menjadi pemberani adalah menjadi seseorang yang sepenuhnya maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dengan menyadari sepenuhnya kemungkinan resiko yang akan diterima. Keberanian tidak akan optimal tanpa kesabaran. Atau dengan kata lain, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Keduanya saling berkaitan karena kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan dan sekuat apa pahlawan mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Aspek lain yang juga penting dalam kepahlawanan adalah pengorbanan. Pahlawan mendapatkan “gelarnya” karena begitu banyak hal telah ia korbankan atau berikan pada masyarakatnya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, kesabaran.

Kesimpulan

Pahlawan sesungguhnya adalah hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan demikian, setiap diri kita punya potensi untuk menjadi seorang pahlawan. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi-potensi tersebut menjadi sarana dalam mewujudkan kepahlawanan serta tetap menjaga keikhlasan dalam berjuang.


* Tulisan ini juga bisa dilihat di Albinadigital.wordpress.com

* Terimakasih kepada Yoga (biologi UI 08) yang sudah meminjamkan buku ini. Terimakasih juga buat Zie, Marsha, Puji, & Edoy (psikologi UI 08) atas kerjasamanya dalam meeringkas isi buku ini sebelumnya, hehehe...

Kamis, Juli 23, 2009

Kenapa Bukan Aku?

Aku sangat ingin menjadi seorang astronot, sangat ingin tebang ke luar angkasa. Tapi.. aku tidak memiliki gelar dan aku bukanlah seorang pilot. Aku hanyalah seorang guru.
Harapan sempat mucul ketika Gedung Putih mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 5I-L pesawat ulang-alik Challenger. Kesempatan yang tidak boleh disiasiakan, aku pun ikut melamar. Betapa bahagianya diriku ketika amplop berlogo NASA yang berisi undangan untuk ikut seleksi aku terima. Aku terus beroda dan ternyata doaku terkabul karena aku lulus seleksi demi seleksi. Mimpi ku semakin mendekati kenyataan.
Dari 43 ribu pelamar yang kemudian disaring lagi menjadi 10 ribu orang dan akhirnya aku pun menjadi bagian dari 100 orang yang berhak mengikuti ujian tahap akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara, dan serangkaian tes lainnya. Siapakah diantara kami yang bisa melewati tahap akhir ini? “Ya Tuhan.. izinkanlah diriku yang terpilih..” lirihku dalam doa yang kupanjatkan.
Lalu tibalah hari pengumuman itu. Dan ternyata NASA memilih Christina McAufliffe. Bukan aku. Aku telah kalah. Hidupku hancur. Aku mengalami depresi, seiring dengan lenyapnya rasa percaya diriku juga kebahagiaanku. Hanya amarah yang tertinggal. “Tuhan kenapa bukan aku? Kenapa Engkau tidak berbuat adil padaku? Kenapa Engkau begitu tega menyakiti hatiku?” Aku pun menangis di pangkuan ayahku. Namun ayahku hanya berkata, “anakku, semua terjadi karena suatu alasan..”
Selasa, 28 Januari 1986. Aku berkumpul bersama teman-temanku untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat itu melewati landasan pacu, aku menantang impianku untuk yang terakhir kalinya, “Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu..”. Namun tak ada yang bisa kulakukan. “Tuhan.. Kenapa bukan aku?”.
Tujuh puluh tiga detik kemudian, ternyata Tuhan menjawab semua pertanyaan dan menghapus semua keraguanku. Tujuh puluh tiga detik setelah peluncuran itu, Challenger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.
Aku teringat kata-kata Ayahku, “semua terjadi karena suatu alasan...”. Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walau aku sangat menginginkannya, karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memilki misi lain dalam hidup ini, dan aku tidaklah kalah. Aku tetap seorang pemenang. Ya aku tetap seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak.

...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah : 216)

diadaptasi dari "Rencana Allah", dalam buku Mengantar Ginjal ke Surga (Eman Sulaiman, penerbit : MadaniA Prima)

gambar: http://www.wired.com/ly/wired/news/images/full/Challenger_Launch.jpg

Rabu, Januari 07, 2009

Untukmu Saudaraku

Awan kelabu belum juga beranjak pergi dari tempat saudaraku nun jauh di sana,
Ini memang pertanda hujan, tapi bukan air, ini hujan api
Api-api yang keluar dari burung-burung besi yang otaknya termakan ide-ide keji tidak tau diri!
Burung-burung besi yang tuan-tuanya telah merobek-robek nilai-nilai kemanusiaan demi sebuah cita-cita tiada berdasar..

Hujan api kini telah mengakibatkan bajir darah dan air mata,
Di tempat lain, di tempat yang masih memiliki nurani, banjir manusia berusaha menujukkan simpati..
Tapi nurani ini pun kian lama kian perih,
Karena burung-burung yang keji itu belum puas menumpahkan darah,
Burung-burung itu masih ingin memenuhi hasrat tuan-tuanya untuk melihat kehancuran..

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Belum puas burung-burungmu merenggut jiwa-jiwa belia dan yang tiada berdosa, kini kau juga kerahkan badak-badakmu tuk memangsa lebih banyak jiwa,

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Tertutup sudah sisi manusia dari diri kalian! Kalian bukan lagi manusia!
Manusia bukanlah pendendam, hanya iblis yang membalas dendam!
Manusia punya perasaan, tidak akan melakukan ketidakadilan!
Manusia punya hati, tidak akan melanggar ucapan sendiri!

Dasar tuan tidak tahu diri, dasar tuan berhati iblis!
Kau tutup mata hati saudara-saudara kami yang lain dari kekejian yang kau lakukan
Kau cuci otak saudara-saudara kami yang lain untuk tak acuh pada kenyataan
Kau sibukkan saudara-saudara kami yang lain hingga hilang rasa kepedulian,
Dasar kalian, iblis!

Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, aku ingin turut dalam barisan kalian yang masih memiliki hati
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, mari kita hidupkan pula hati-hati saudara kita yang masih tertutupi
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, nilai-nilai yang kita miliki pastinya ikut menentang agresi ini dan nilai-nilai yang kita miliki pasti berpihak pada yang terdzalimi,
Oh, wahai saudara-saudaraku di sini, mari kita bantu saudara kita yang bersimbah darah di sana, yang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan!
Mari kita bantu dengan bantuan yang sesuai, Mari kita bantu dengan bantuan yang proporsional..

Aku yakin saudara-saudara kita yang berjuang akan menang
Aku yakin simpati yang kita berikan akan meningkatkan daya juang
Aku yakin doa yang kita panjatkan akan memberikan kekuatan...

Saudara-saudaraku yang sedang berjuang, jangan menyerah pada penindasan,
Saudara-saudaraku, jangan takut akan kekuatan senjata mereka,
Saudara-saudaraku, yakinlah akan kekuatan kalian, karena kalian memiliki ke-tauhid-an,
Saudara-saudaraku, kami akan mendukungmu semampu kami,
Kami akan mendoakan perjuanganmu di setiap sujud kami
Kami akan selalu mendukung dan mendoakan kalian,
Karena kalian adalah saudara kami..