Minggu, Maret 10, 2013

Assalamu'alaykum.


Sudah lama tidak menuangkan gagasan melalui media blog ini,
Insya Allah blog ini akan "diisi" lagi, tunggu ya..  :)

Selasa, Oktober 19, 2010

10 / 90

Bayangkan kejadian berikut ini terjadi pada kehidupan Anda, pembaca yang budiman :

Suatu pagi, Anda sedang sarapan bersama keluarga sebelum berangkat kuliah. Tiba-tiba adik perempuan Anda yang masih kelas 4 SD menumpahkan segelas susu cokelat ke kemeja putih yang sedang Anda kenakan untuk berangkat ke kampus.
Secepat kilat Anda berada dalam situasi dimana Anda harus memilih untuk marah dan menumpahkan segala kekesalan Anda kepada adik kecil Anda itu atau Anda bersabar untuk memaafkannya.

Ternyata respon yang Anda pilih adalah “marah dan menumpahkan segala kekesalan Anda pada adik Anda”.
Anda pun mulai mengumpat, berkata-kata kasar memarahi adik Anda yang telah menumpahkan segelas susu cokelat ke kemeja putih Anda. Adik Anda pun menangis.

Setelah itu, Anda melihat ke arah ibu Anda, kemudian mengkritiknya karena telah menaruh segelas susu tadi terlalu dekat dengan tepi meja. Pertengkaran yang tidak perlu terjadi antara anak dan ibundanya pun terjadi. Anda pun semakin naik pitam dan sembari memukul meja makan untuk melampiaskan kekesalan Anda, Anda pun pergi ke kamar untuk mengganti kemeja. Setelah itu Anda kembali dan melihat adik perempuan Anda tadi baru saja menghabiskan sarapannya, namun masih menangis.
Keadaan semakin terasa buruk karena mobil jemputan adik Anda tidak bisa datang hari ini. Ini berarti Anda harus mengantar adik Anda ke sekolahnya terlebih dahulu, sementara waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai di kampus tepat waktu tidaklah banyak.
Akhirnya, Anda pun mengendarai sepeda motor Anda layaknya seorang pembalap liar. Sayangnya, pembalap liar yang kemudian harus berurusan dengan pihak berwajib. Terbuanglah 10 menit untuk membereskan urusan dengan pihak berwajib tadi. Akibatnya adik Anda pun terlambat selama 10 menit pula. Beruntung pintu gerbang sekolah belum tertutup untuknya. Anda mungkin tidak peduli. Yang Anda pedulikan, sambil tetap mengalirkan sumpah serapah kepada adik Anda, hanyalah bagaimana agar bisa tiba di kampus dalam waktu lima menit kedepan.
Secepat apapun Anda berusaha, sepuluh menit kemudian Anda baru tiba di parkiran kampus Anda. Satu-dua langkah lebar Anda ambil dan tiba-tiba Anda tersadar, print-out makalah tugas Anda yang harus dikumpulkan pagi ini (atau tidak ada nilai sama sekali) tertinggal di meja makan rumah Anda.
Hari itu pun berlalu dengan begitu buruk, ingin rasanya Anda segera pulang. Ketika Anda pulang, Anda masih menyalahkan adik dan ibu Anda sebagai pangkal permasalahan dari buruknya hari ini bagi Anda.

Anda sepakat dengan “Anda” pada kisah tadi? Siapakah yang menurut Anda patut disalahkan dari buruknya hari yang “Anda” alami? Segelas susu cokelat yang tumpah? Kecerobohan adik “Anda”? Pihak berwajib (polisi) yang menghambat perjalanan Anda? Atau kah “Anda” sendiri?

Apakah yang akan terjadi seandainya “Anda”, ketika segelas susu tadi tumpah mengenai kemeja Anda, memilih untuk bersabar dan memaafkan adik Anda? Mungkin “Anda” tetap perlu mengganti kemeja “Anda”, tapi “Anda” akan tetap tenang dan tidak tergesa-gesa sampai melupakan tugas penting yang harusnya tak boleh “Anda” lalaikan. “Anda” tidak perlu berurusan dengan pihak berwajib yang menyebabkan waktu anda banyak terbuang, dan hari itu pun akan berjalan dengan baik dan anda tidak kehilangan nilai sebagaimana yang Anda inginkan.

Renungkanlah kata-kata berikut ini;
-    10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita
-    90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi/ memberi respon

Kejadian “segelas susu cokelat yang tumpah ke kemeja ‘Anda’” dalam cerita di atas adalah “10%” peristiwa yang mungkin kita tidak punya kuasa apapun untuk merubah atau mengontrolnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol respon kita untuk menanggapi “10%” tadi, karena respon kitalah yang sesungguhnya bernilai “90%”. Tidak masalah apa yang menimpa kita, yang menjadi masalah adalah bagaimana respon kita dalam menanggapi masalah atau peristiwa yang terjadi.

Hal-hal yang mungkin terlihat menyulitkan kehidupan kita, kebijakan pemerintah lah, kebijakan  kampus yang tidak bersahabat lah, tuntutan akademis yang tinggi lah, kesibukan non akademis kampus lah, ketegangan antara kawan lah, kondisi keluarga lah, dsb. Bisa jadi hanya 1 bagian dari dinamika kehidupan kita. Respon atau reaksi kita terhadap peristiwa-peristiwa itulah yang menentukan 9 bagian lain dari usaha kita dalam mencapai kesusksesan yang ingin kita raih.

Dan karena cerita tadi menyangkut soal maaf-memaafkan, semoga petikan kisah ini pun dapat memberikan suatu skema baru mengenai makna dari “maaf” dan “memaafkan”.

Wallahu’alam bi showab..

*cerita ini saya dapatkan dari salah seorang sahabat saya, tapi beliaupun tidak menyebutkan sumber resmi darimana cerita ini berasal. Mudah-mudahan tidak dihitung sebagai plagiarisme, hehe..

gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuXg07flCbl4ypgoxf1K7YzXzQoEagxayT8JsAUyywn57mWS0mIU5eggPbDS720gc2LQPAaNY_6SYffgMVjdpTCqClLgjcv5UhYB1TK8aWVo-po0bCYIcCZvcvkaOVzunMMkfW2MCLWTE/s1600/SusuTumpah.jpg

Kamis, Juni 03, 2010

Melepas Rindu dengan Ombak


Sudah lama rasanya diri ini tidak merasakan semilirnya angin yang berhembus dari lautan menuju daratan , debur ombak yang membasahi kaki yang belepotan oleh pasir-pasir coklat-keputihan, serta pemandangan biru-kebiruan yang memanjakan mata, sekaligus menunjukkan kebesaran Maha Pencipta .. Ya, sudah lama rasanya tidak berwisata ke daerah pantai, daerah perbatasan antara lautan biru yang luas dengan daratan yang hijau, kecoklatan, dan keabuan, yang sehari-harinya penuh dengan aktifitas manusia..

Akhirnya kesempatan itu pun datang, melalui sebuah kegiatan daurah yang diselenggarakan oleh rekan-rekan dari Forum Ukhuwah dan Studi Islam (FUSI) F. Psikologi UI, yang bertajuk KIAT (Kajian Islam Akhir Tahun) 2010. Ya, tahun ini, KIAT- FUSI mengambil tempat di Nurul Fikri Boarding School, yang berjarak kurang lebih 8 kilometer dari Pantai Anyer. So, kegiatan tafakur alam-nya pun menjadi “wisata pantai” di Pantai Pasir Putih, Anyer. Sebuah pengalaman menarik di penghujung semester genap tahun ajaran ini. Berikut sedikit kesan dan memori yang tertinggal dari kegiatan yang berlangsung pada 29-30 Mei 2010 lalu ini..

KIAT 2010
Sebenarnya, bagi saya secara pribadi, yang menjadi daya tarik utama dari kegiatan KIAT kali ini adalah adanya kegiatan “wisata” ke pantai Anyer yang dijanjikan oleh panitia melalui spanduk publikasi kegiatan ini. Hehehe.. Ya, tapi di luar “motivasi untuk berwisata” itu, saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena pengalaman keikutsertaan di kegiatan yang sama tahun lalu meninggalkan kesan yang indah bagi saya.
Apakah kesan indah itu? Kesempatan berinteraksi dengan warga asli di daerah tersebut! hal itu merupakan sebuah sensasi tersendiri bagi saya, karena melalui interaksi dengan warga sekitar itu, kadang banyak potongan hikmah dan inspirasi menarik yang bisa diambil. Pada KIAT tahun lalu, dimana karena saya tidak bisa berangkat dari awal bersama rombongan besar, saya berangkat sendiri ke daerah Parung Kuda, Sukabumi yang “asing” bagi saya. Asing-nya tempat membuat saya harus bertanya pada orang-orang yang saya temui dalam perjalanan, dan kebetulan salah seorang yang saya temui merupakan warga asli daerah Parung Kuda tersebut, kebetulan pula arah rumahnya searah dengan arah tempat vila kegiatan KIAT berlangsung. Orang yang saya temui ini kemudian menceritakan berbagai hal tentang daerah Parung Kuda tersebut. Salah satu yang masih saya ingat adalah tentang adanya seorang tokoh yang aktif melakukan penyebaran agama Islam di daerah tersebut dan ikut membangun desa di daerah tersebut baik secara fisik (membangun fasilitas masyarakat, jalan, penerangan, tempat ibadah) dan ruhaniyah (mengadakan kajian-kajian agama, dsb). Bahkan vila tempat acara kami berlangsung tersebut dibangun oleh si tokoh yang diceritakan orang yang saya temui tadi. Beliaupun menceritakan bahwa si tokoh tersebut telah wafat, kira-kira tiga bulan sebelumnya.
Pengalaman bertemu warga sekitar dan cerita unik berkaitan dengan tempat tersebutlah yang ingin kembali saya dapatkan di KIAT kali ini, maka, saya pun awalnya berencana untuk datang sendirian atau tidak bersama rombongan besar peserta dan panitia ke acara ini. Namun, setelah menimbang-nimbang (terutama pertimbangan masalah dana), akhirnya niat ini saya urungkan dan saya pun berangkat bersama rombongan besar, dari kampus f. psikologi UI pada Sabtu, 29 Mei 2010 lalu, sekitar pukul 8 pagi.
Setelah menempuh hampir 5 jam perjalanan darat dengan menggunakan 2 bus berukuran sedang milik TNI, akhirnya kami tiba di tempat, Nurul Fikri Boarding School sekitar waktu zuhur. Bus-bus kami pun parkir di area parkir mesjid di komplek “pesantren” ini. Kami semua serombongan pun lansung turun dan memindahkan barang-barang bawaan kami ke daerah camping ground tempat kami akan bermalam di komplek “pesantren” ini. Jadi, selama di sini, kami tidak bermalam di wisma atau semacamnya, tapi di camping ground dengan menempati tenda yang sudah disediakan oleh pihak pengelola tempat. Total rombongan peserta dan panitia KIAT ini “menghabiskan” 6 buah teda, 4 untuk peserta akhwat dan 2 untuk peserta ikhwan. Tenda ikhwan dan akhwat ini berada dalam satu area, namun tepisah oleh sebuah parit yang lebarnya kira-kira 1,5 meter. Area camping ground ini sendiri letaknya kira-kira 1.2 kilometer dari tempat parkir. Perjalanan kaki untuk mencapai camping ground ini seperti berjalan dari ujung ke ujung area pesantren ini. letaknya bersebelahan dengan fasilitas kolam renang pesantren, sebuah danau buatan, dan hutan-hutan yang menjadi batas wilayah luar area pesantren ini.

Sisi Lain dari Mensyukuri Nikmat Allah.
Setelah semua menempatkan barang-barang yang dibawa di tenda masing-masing, makan siang, dan sholat zuhur yang di-jamak dengan sholat ashar, acara kembali terpusat di sebuah aula berdinding dan berlantai kayu di pinggir salah satu danau. Dimulailah sesi materi pertama dari acara ini. Materi pertama ini dibawakan oleh seorang ustadzah, Ustadzah Niniek nama sapaanya, yang membawakan materi tentang mensyukuri nikmat Allah. Secara umum, materi yang dibawakan merupakan materi yang sudah pernah saya dapatkan sebelumnya di kesempatan kajian yang lain, seperti mengapa kita harus bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, baik di saat suka maupun duka maupun tentang manfaat menjadi orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan dilihat dari berbagai sisi. Namun ada hal menarik, sesuatu yang berbeda yang ditawarkan oleh bu ustadzah untuk lebih bisa meresapi rasa syukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan, yaitu dengan mencatatkan hal-hal yang dapat kita syukuri dalam satu buku catatan khusus setiap menjelang tidur! Mengapa, karena menjelang tidur, gelombang otak kita berada dalam posisi relaks, gelombang alpha. Di saat inilah kita mampu menyerap informasi secara optimal. Dengan memanfaatkan konsep ini, insyaAllah kita akan semakin meresapi makna dari rasa syukur kita, semakin cinta pada Dzat yang telah memberikan kita banyak hal yang patut disyukuri, dan manfaat-manfaat lain dari segi jasmani-rohani dari sikap pandai bersyukur ini akan lebih terasa. Hmm.. highly recommended untuk dicoba :D

Temukan Konsep Diri Anda!
Materi syukur nikmat dari ustadzah Niniek tadi ternyata berlansung lebih lama dari yang dijadwalkan, akibatnya, rencana untuk ke pantai Anyer yang semula dijadwalkan sore hari itu terpaksa ditunda. Penonton kecewa.. Tapi, mau bagaimana lagi? Mungkin keikhlasan kami dalam mengikuti majelis ilmu di sini sedang diuji oleh-Nya. Tak ada pilihan lain, acara pun berlanjut ke waktu mentoring dan waktu bebas untuk bersih-bersih sampai dengan maghrib. Meskipun tidak semua peserta kebagian jatah membersihkan badan alias mandi, acara kembali berlangsung di Aula, sholat maghrib dan materi yang berikutnya. Sampai di sini, setelah akhirnya dapat kesempatan untuk mandi, saya tidak lagi mengikuti acara di Aula, karena sang Ketua FUSI, Fajar, meminta saya ikut menemaninya berjaga di tenda. Oke lah..
Saya dan Fajar pun menunaikan sholat maghrib dan isya secara berjamaah, berdua, setelah itu kami habiskan waktu jaga tenda ini dengan mengobrolkan banyak hal, tentang psikologi, Fakultas Psikologi UI dan civitas-civitasnya, tentang pengalaman “camping”-nya Fajar dua pekan sebelum ini, dan banyak hal lainnya. Sembari ditemani oleh sebungkus biskuit keju, wafer coklat, beberapa gelas minuman air mineral, serta handphone yang memutar musik-musik khas para “aktivis dakwah” yang terkadang diselingi lantunan ayat-ayat suci yang terekam secara digital dalam format mp3., ceramah beberapa ustad ternama yang juga diabadikan dalam format digital. Ada satu ceramah yang menarik bagi saya, sebuah ceramah dari ustadz Anis Mata, yang bertemakan pernikahan atau lebih tepatnya tentang memilih pasangan hidup.. uhuy..! Apa isi ceramahnya? Salah satu yang masih saya ingat adalah tentang menemukan dan memahami “konsep diri” anda untuk menemukan siapa pasangan yang pas untuk anda! Ya! ustad Anis Mata mengatakan bahwa kita harus mengenal dengan baik diri kita untuk bisa menemukan siapa pasangan hidup yang tepat untuk kita. Karena menikah bukanlah urusan sepele, ini menyangkut sebuah kerjasama apik untuk membangun peradaban dari titik terkecilnya, keluarga, maka untuk bisa melakukannya dengan baik diperlukan kombinasi pasangan yang ideal. Ideal dalam arti bisa saling melengkapi kelebihan dan kekurangan yang ada. Hehe.. boleh juga nih tips-nya..
Tak terasa, jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, teman-teman dari aula pun sudah mulai berdatangan untuk memenuhi tuntutan mata mereka yang minta ditutup untuk beberapa waktu.

Allahu Akbar.. Swiiiiingg.. Jebyur..!!
Sekitar pukul 3 dini hari, panitia membangunkan kami untuk melaksanakan qiyamul lail bersama, kembali bertempat di Aula. Setelah qiyamul lail, tak berselang lama, waktu shubuh datang dan kami semua pun sholat shubuh berjamaah. Selepas sholat shubuh berjamaah, acara dilanjutkan kembali dengan materi mengenai “10 kriteria pemuda muslim”, aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, fisik yang kuat, cerdas, melawan hawa nafsu, pandai mengatur waktu, teratur, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Penekanan dari ustad yang membawakan materi ini adalah bahwa mencapai seluruh kriteria ini memang bukan perkara mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Pak ustadz pun mengakui dirinya belum bisa memenuhi semua kriteria ini, namun ia akan terus berusaha dan ikut mengajak orang lain untuk mampu mencapainya.
Setelah materi dari ustad ditutup, acara selanjutnya adalah outbond! Dan apa yang kami (para lelaki) dapati di pos pertama? Flying fox melintasi salah satu danau di area pesantren ini! Dari ujung satu ke ujung lainnya, berjarak kira-kira 30 meter. Start-nya adalah dari pucuk sebuah pohon kelapa setinggi kira-kira 10 meter, finish-nya adalah sebuah batang pohon tua yang menyembul dari permukaan air danau. Tidak seperti flying fox yang selama ini kami temui dimana peserta “terbang” dari satu sisi ke sisi sebrangnya dimana di situ berjaga seorang pemandu yang akan membantu kita turun dari “wahana” ini, tantangan dalam flying fox kali ini adalah untuk “terbang” kemudian menceburkan diri ke danau sedalam 10 meter yang ada di bawah “trek” terbang kami. Woo.. sebuah sensasi adrenalin rush tersendiri tentunya untuk terbang dari ketinggian 10 meter kemudian nyebur ke danau sedalam 10 meter pula. Awalnya memang agak menakutkan, setelah dicoba ternyata mengasyikkan juga. Oh ya, sebelum meluncur “terbang” Bapak pemandu menginstruksikan kami untuk berteriak, “Allahu Akbar!”, belakangan saya merenung, mungkin maksudnya “teriakan” ini adalah untuk meredakan ketakutan yang ada pada kita, “bukankah ada Allah yang Maha Besar, so, apa lagi yang perlu kita takutkan??”.
Pos outbond berikutnya adalah games seperti minesweeper dan game halang rintang yang menguji kesabaran dan kesetiakawanan kami untuk terus memberikan dukungan pada anggota kelompok yang lain dalam melewati tantangan yang ada. Sekitar pukul 10.30 seluruh rangkaian outbond selesai. Kami pun diberi waktu untuk bersih-bersih dan rapih-rapih tenda untuk kemudian berangkat menuju “agenda utama” acara ini, jalan-jalan ke pantai.. :D

White Sand Beach…
Selepas penutupan dan sholat zuhur yang dijamak dengan sholat ashar lagi secara berjamaah, rombongan pun menyudahi petualangannya di kompleks Nurul Fikri Boarding School ini, untuk kemudian ngebut menuju Pantai Pasir Putih, Anyer.. “agenda utama” dari kegiatan ini, ehehe..
Hampir 30 menit perjalanan, akhirnya kami pun tiba di pantai Pasir Putih, Anyer.. Di tengah cuaca terik karena matahari yang sedang mencapai titik puncaknya. Namun, semua itu tidak menghalangi kami untuk langsung menikmati indahnya pantai dengan berfoto-foto ria, bermain bola, maupun berjalan-jalan menyusuri pantai yang indah ini sambil menikmati deburan ombak yang menyapa kaki-kaki yang belepotan oleh pasir pantai ini, menuntaskan kerinduan kami akan suara-suara deburan ombak dan keceriaan di bawah naungan rasa syukur akan nikmat yang begitu besar ini.. Subahanallah.. Kapan lagi dengan 50 ribu rupiah saja bisa menikmati indahnya pantai Anyer seperti ini? hehehe… 

Jazakumullah khair buat semua, panitia, peserta, pak sopir, pak satpam, tukang es kelapa, tukang ojek (lho?!)..


gambar :http://img104.imageshack.us/img104/983/anyer25sl.jpg  

Selasa, Mei 25, 2010

(yang) Terus Berlalu..


Sekedar share saja.. mungkin bisa jadi sedikit inspirasi di hari ini..

Jadi, beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya menemukan sepucuk surat yang amplopnya bertuliskan “kepada: akhi M. Ardhya, XI Ipa 3”.., ketika dilihat siapa pengirimnya, ternyata berasal dari “DKM Ar-Rahmah Smansa” (rohis-nya SMA saya dulu..). Kemudian saya pun langsung teringat , dulu surat ini saya terima saat saya berulang tahun, kalo tidak salah sih pas yang ke-17.. Ya, sewaktu menjelang akhir kelas XI,..

Dulu sih seneng-seneng aja kan waktu dikasih kartu ucapan begini.., wah.. gw ulang tahun DKM gw ngasih gw kartu ucapan selamat nih.. hehe..

Isinya mah nggak terlalu dibaca waktu itu.. :XD

Tapi, sekarang, setelah lama surat ini tersimpan, dan kemudian tanpa sengaja ditemukan, menjelang milad ke-20 lagi.. wah, sepertinya isi dari surat berisi kartu ucapan selamat ini harus mulai diperhatikan..

Hehe..

Berikut isi suratnya;


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Selamat Ilang Tahun..!!!

Waktu semakin cepat berlalu

Umurmu telah berkurang satu tahun lagi..

Kau semakin mendekati kematian

Entah kematian seperti apa…

Khusnul khatimah kah?

Berbaring di tempat tidurkah?

Atau..

Teronggok lemah dengan darah di sekelilingmu?

Bersiaplah menghadapinya..

Akhi..

Dirimu adalah figur generasi islam yang senantiasa diharapkan

Bersikaplah layaknya seorang pemuda islam yang teguh

Yang senantiasa menjaga kehormatan diri, keluarga, dan agama

Menjadi generasi islam yang membanggakan

Menjadi pembela agama terbaik hingga akhir zaman

Akhi..

Selamat ilang tahun…


Ya, teringat kembali, ada yang pernah bilang (siapa ya?) ulang tahun adalah sarana kita untuk berintrospeksi, melihat sudah sejauh apa kita berjalan di kehidupan yang sementara ini, apa saja yang sudah kita perbuat, apa saja manfaat yang sudah kita berikan dari eksistensi kita selama ini.. sebelum waktunya eksistensi kita berakhir, dan esensi dari diri kitalah yang dikenang..

~~

Jumat, Maret 05, 2010

Hidayah dan Hidangan Istimewa.


Dahulu, seorang pemuda datang dari sebuah desa terpencil untuk belajar di Universitas Al-Azhar. Ia merantau ke mesir membawa impian besar dan harapan mendalam bahwa kelak ia menjadi seorang da’I yang ikhlas membantu agama Allah, seikhlas para ulama dahulu yang kisahnya telah banyak ia baca.

Setiap pagi ia pun menghadiri pengajian yang di masjid Al-Azhar, bersama seorang Syaikh. Disitulah ia mendulang ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadists, adab, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Dengan takzim, setiap ia duduk mendengarkan ucapan syaikh yang menyampaikan pelajaran serta petuah-petuah penuh hikmah.

Namun keadaanya berbeda sejak beberapa bulan terakhir. Kiriman uang sekadarnya dari orangtuanya yang bekerja sebagai petani di kampung tak kunjung tiba. Dan sudah beberapa hari, uang persediaanya telah habis meskipun ia telah mencoba bertahan dengan menghemat sisa uangnya.

Kebutuhan sehari-harinya mulai terganggu. Bahkan seringkali ia tidak makan seharian. Keadaan itu sering membuatnya tidak mampu berkonsentrasi penuh terhadap setiap pelajaran yang disampaikan syaikh.

Hingga di suatu hari, ia tidak bisa lagi menahan rasa lapar yang mendera perutnya. Maka, ia memutuskan meninggalkan sejenak pengajian bersama syaikh, dengan harapan di luar sana, ia dapat menemukan sepotong roti untuk mengganjal perutnya yang semakin lama semakin perih karena lapar.

Maka berjalanlah ia menelusuri jalan dan lorong di sekitar kampus Al-Azhar. Tanpa ia sadari, ia tiba di sebuah bangunan rumah yang terlihat lebih mewah dari rumah di sekelilingnya. Pintu rumah itu terbuka lebar dan tidak terlihat siapapun di dalam rumah tersebut. Pemandangan yang menggoda siapa saja untuk masuk dan menjarah harta bendanya.

Karena tidak menemukan siapapun, ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu. di ruang makan, ia mendapati hidangan yang tertata rapih di atas meja, seolah disiapkan untuk satu jamuan. Aroma makanan betul-betul menggoda selera, menggugah perutnya yang perih didera rasa lapar.

Saat akan menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya , seketika ia teringat akan nasihat Imam Asy-Syafi’I kepada Waqi’ bin Jarrah ; “karena ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya itu takkan dikaruniakan pada pelaku maksiat”.

Sungguh, memasukkan makanan haram ke dalam perut walaupun hanya secuil roti adalah bagian dari menghalangi cahaya itu. Ia percaya mustahil menggabungkan antara cahaya dan kegelapan dalam satu ruang.

Akhirnya dengan perut yang masih sangat lapar, ia memutuskan untuk kembali ke pengajian bersama syaikh.

Setelah pelajaran syaikh baru saja usai, tiba-tiba saja seorang wanita separuh baya menghampiri syaikh. Lalu keduanya terlibat pembicaraan serius.

Tak lama kemudian, syaikh memanggil sang pemuda, “wahai Abdullah, kemarilah!”

Pemuda itu pun menjawab, “ya Syaikh, kenapa tiba-tiba Syaikh memanggilku?”

“Begini, bagaimana pendapatmu jika kamu menikah?” ujar syaikh.

Dengan terkejut pemuda tersebut menukas, “apa?! Apakah syaikh sedang bercanda dengan ku? Demi Allah, aku sudah tiga hari tidak makan, mau diberi makan apa istriku nanti, wahai syaikh?”

“Dengarkanlah, sesungguhnya wanita tua ini mengeluhkan kepadaku, kalau suaminya baru saja meninggal dunia. Suaminya meniggalkannya bersama Aisyah, putri satu-satunya, dan mewarisi harta yang melimpah. Ibunya ingin segera menikahkanya dengan seorang pemuda saleh, atas pertimbanganku. Ia mebutuhkan menantu yang nantinya akan membantunya untuk mengelola harta warisan, peninggalan ayahnya. Bagaimana?”

Seakan tidak percaya, pemuda itu menjawab, “kalau demikian, baiklah wahai syaikh, terimakasih atas perhatiannya. Saya siap menikah dengannya.”

Tak berapa lama, mereka segera menuju kediaman aisyah. Dan ketika tiba mereka disana, tiba-tiba pemuda itu meneteskan air mata.

Syaikh bertanya heran; “kenapa engkau menangis Abdullah? Apakah kau merasa terpaksa menikah dengan gadis ini?”

“Bukan ya Syaikh. Bukan karena itu, tapi, belum lama ini, saya pernah memasuki rumah ini. hampir saja saya mengambil makanan yang ada di atas meja itu. Tapi, aku teringat kalau makanan itu bukanlah milikku dan aku tidak boleh memakannya tanpa seizin pemiliknya. Jika aku memakannya, itu berarti aku memasukkan makanan yang haram ke perutku. Karena itu, aku segera meninggalkannya karena takut kepada Allah”

Syaikh pun bertasbih, “ Maha Suci Allah yang pernah berfirman, ‘barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeky dari arah yang tidak disangka-sangka’ (Ath-Thalaq : 2-3).”

Akhirnya, pemuda dan gadis itu dinikahkan oleh Syaikh, disaksikan oleh ibunda gadis tersebut serta orang-orang yang mereka cintai dan cinta kepada mereka.

Subahanallah, karena kecintaannya kepada Allah, pemuda desa itu telah mendapatkan limpahan rahmat. Kini, Ia pun tidak hanya mendapatkan seorang istri, tapi juga mewarisi harta kekayaan ayah dari isterinya. Begitulah cinta yang sesungguhnya. Ketika cinta kita tujukkan semata-mata kepada Yang Maha Mencinta, maka limpahan cinta-Nya akan membuat hidup ini terasa nikmatnya. Ia akan menguatkan jiwa kita, karena sesungguhnya jiwa ini lemah ketika dalam posisi yang salah..

Indah bukan ketika cinta kita letakkan pada jalan yang diridhoi oleh-Nya?! Lantas, masihkah kita tergoda untuk mencoba meletakkan, mewujudkan, memberikan cinta kita melalui jalan atau tradisi yang justru bertentangan dengan tuntunan yang sesuai fitrah kita (Islam) ?

Wallahu’alam bi showab

(Cerita dikutip dari buku : Engkau Lebih Cantik dari Bulan Purnama, karya Muhammad Yasir)


Selasa, Januari 05, 2010

Farewell…

Saat langit gelap karena rembulan tertutup cadar kelabu awan-awan
Kuberdiri mematung menatap meratap
Menyendiri bersama gemuruh dalam diri
Andai bisa jiwa ini bersuara
Maka jiwa ini akan berteriak..

Mengapa luka baru terasa setelah pisau membelah raga
Mengapa air mata baru jatuh saat duka telah lewat masa
Mengapa diri ini justru berkhianat saat cinta bersemi dalam jiwa
Mengapa..?

Apakah gerangan yang sebenarnya terjadi?
Mimpi indah mengawali perputaran masa
Namun ayat-ayat duka menghiasi lembaran cerita..

Adakah hati yang kurang tulus dalam menjalankan titah yang mulia?
Ataukah kekosongan akal menjadi awal petaka?
Tak kutemukan jawabnya…
Yang jelas, jiwa raga ini tersiksa
Kasih pun terluka..

Maafkan aku..
Bukannya aku hendak lari saat purnama kembali sesuai janji,
Bukannya aku tega menyakiti saat kau cemas menanti

Percayalah, tanpa ku kau tetap bisa berlari
Percayalah bahwa mimpi ini tak akan pernah mati,
Dan berusahalah agar tanpa ku mimpimu takkan berhenti
Karena di sini, meskipun aku tertusuk ribuan duri
Meskipun jiwaku nyaris mati,
Aku pun aku sedang membangun mimpi
Mimpi kita bersama, tentang dunia dimana kelak bunga-bunga indah bersemi..

Roda masa kembali berputar
Langit biru kembali bersinar..
Walau awan kelabu kelak kan datang,
Berjanjilah sayap-sayap ini tidak akan rela dipatahkan..

Selasa, Desember 29, 2009

Mengintegrasikan Psikologi dan Islam


Data buku

Judul : Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami

Penulis : Hanna Djumhana Bastaman

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta


Psikologi yang islami merupakan salah satu buah dari pemikran dan usaha-usaha islamisasi ilmu pengetahuan atau sains yang makin marak belakangan ini, sejalan dengan makin kuatnya semangat dari umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, untuk menunjukkan bahwa memang Islam-lah rahmat bagi seluruh alam.

Buku Integrasi Psikologi dengan Islam; Menuju Psikologi Islami ini pun hadir sebagai salah satu wujud karya dari salah satu anak bangsa yang memang sangat peduli akan hal ini, Bapak Hanna Djumhana Bastaman. Melalui buku ini beliau mencoba menyampaikan pemikiran-pemikiran beliau yang disertai dengan argumen-argumen ilmiah tentang konsep psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut konsep-konsep dalam ajaran Islam serta tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental tapi juga meningkatkan kualitas religiusitas dalam diri manusia.

Pendekatan yang dilakukan oleh pak Hanna dalam menyampaikan pemikirannya tentang psikologi yang islami ini bukanlah sebuah kritik maupun kecaman terhadap arus-arus psikologi yang memang telah mapan. Melainkan lebih kepada memberi wawasan Islam pada konsep-konsep psikologi kontemporer serta memanfaatkan hasil-hasil pemikiran ahli-ahli psikologi aliran kontemporer tersebut dalam usaha peningkatan kesejahteraan manusia, jika justru ditemukan hal-hal yang justru tidak sesuai, maka mari sama-sama kita memperbaikinya.

Buku ini sendiri terbagi dalam beberapa bagian utama. Bagian prolog mencoba memberi gambaran awal dan hal-hal pokok mengenai psikologi islami. Bagian kedua mengetengahkan pembahasan mengenai upaya menghubungkan sains dengan agama dalam konteks ilmu psikologi. Ada pula bagian ketiga buku ini mencoba mengusung konsep utama dari wacana psikologi islami, yaitu perspektif psikologi islami dalam memberikan pandangan seputar manusia, serta telaah terhadap beberapa pandangan dari berbagai aliran psikologi mengenai manusia dari sudut islam. Kemudian pada bagian keempat buku ini, Pak Hanna mencoba mengungkapkan sisi praktikal dari psikologi islami dalam menangani beberapa isu yang sering kita temukan dalam kehidupan. Dan buku ini pun ditutup melalui sebuah epilog yang membahas mengenai respon-respon yang muncul dalam menanggapi wacana psikologi islami ini.

Menurut saya, buku ini dapat memperluas perspektif kita dalam memahami islam maupun ilmu Psikologi itu sendiri. Dengan perspektif yang lebih luas, tentunya makin banyak sisi yang dapat kita gali dan optimalkan dalam menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan dan kemanusiaan yang ada pada zaman ini. Sangat cocok bagi mereka yang menaruh minat pada kajian-kajian islam, kajian ilmu-ilmu psikologi, maupun bagi mereka memang sudah berkecimpung dalam bidang psikologi ini (mahasiswa psikologi, dosen, psikolog, peneliti, dsb).


Selasa, Desember 01, 2009

Ngobrolin Islam dan Psikologi dalam ICON (Islamic Chatting on November)


ICON merupakan kependekan dari Islamic Chatting on November, sebuah kegiatan seminar kajian dan diskusi yang membahas representasi Islam dalam bidang Psikologi. Acara yang diselenggarakan oleh departemen Pengembangan Psikologi Islami (P2I) FUSI F.Psikologi ini, diselenggarakan pada 20 November 2009 lalu di Auditorium Ged.H Fakultas Psikologi UI.

Acara ini mengangkat tema “Give You More: Islam as Rahmat Alam”. Melalui tema ini ICON berusaha mengajak rekan-rekan civitas Psikologi UI secara khusus dan rekan-rekan yang lain untuk memahami bahwa Islam merupakan ajaran yang isinya begitu menyeluruh, menyentuh setiap sendi kehidupan manusia, termasuk sendi-sendi interaksi manusia baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain dan lingkungan (sendi-sendi kehidupan yang selama ini dipelajari dalam ilmu Psikologi). Sehingga nantinya, ilmu Psikologi yang kita pelajari mampu kita manfaatkan selain untuk meningkatkan kesehatan mental diri pribadi dan masyarakat, juga untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita semua kepada Allah SWT.

Tema “Give You More: Islam as Rahmat Alam” ini sendiri disajikan oleh ICON dalam 3 tema seminar kajian dan diskusi, yaitu Bedah Buku “Psikologi Sufi”, Seminar “Mencetak Anak Bangsa Menjadi Generasi Pahlawan Berdasarkan Psikologi Pendidikan Islam”, serta Bedah Film dan Talkshow “Turtles Can Fly”.

Sesi bedah buku “Psikologi Sufi” dibawakan oleh Nurlyta Hafiyah, S.Psi, M.Psi, seorang dosen di Fakultas Psikologi UI yang juga merupakan penerjemah dari sebuah buku mengenai psikologi sufi yang ditulis oleh seorang penulis barat bernama Lynn Wilcox, bersama moderator Rizqi M. Ghibran, mahasiswa berprestasi tingkat Fakultas Psikologi pada tahun 2007. Dalam sesi ini, Ibu Nurlyta Hafiyah yang biasa disapa Mbak Evi ini mengajak kita untuk melihat dengan sudut pandang yang lebih luas mengenai sufisme. Sufisme dalam Psikologi menurut Mbak Evi adalah salah satu jalan (dari sekian banyak jalan) untuk semakin mengenal Tuhan melalui pengenalan diri yang makin mendalam, karena aliran psikologi kontemporer kebanyakan justru “menjauhkan manusia dari Tuhan-nya”.

Sesi berikutnya menampilkan Seminar “Mencetak Anak Bangsa Menjadi Generasi Pahlawan Berdasarkan Psikologi Pendidikan Islam” yang dibawakan oleh Bapak Buchori Nasution, seorang pemilik sekolah berbasis pendidikan Islam dan anggota dari Lembaga Menejemen Pendidikan Indonesia (LMPI) serta Research Center for Islamic Curruculum. Bersama moderator, Terry Marlita, mantan Ketua Departemen Pengembangan Psikologi Islami tahun 2009, Pak Buchori mengajak kita semua untuk kembali melakukan kajian yang serius terhadap Al-Quran, karena Al-Quran merupakan bacaan paling baik dan paling komprehensif tentang seluruh sendi kehidupan manusia. Tidak hanya untuk mengkaji dan menghafalkannya, tapi juga untuk memahami dan mengajarkan isinya, karena itulah sesungguhnya esensi pendidikan yang sering dilupakan oleh para pengajar. Selain itu, Pak Buchori pun mengajak para peserta untuk lebih kritis lagi terhadap perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia agar pendidikan di Indonesia mampu secara optimal mencetak “generasi-generasi pahlawan” bagi bangsa Indonesia.

Dan di sesi ketiga (terakhir) diadakan pemutaran singkat film “Turtles Can Fly”, sebuah film tentang kehidupan dan perjuangan hidup dari anak-anak yang tinggal di sebuah daerah yang sering dilanda konflik peperangan, di perbatasan Turki dan Irak, menjelang dilangsungkannya invasi Amerika Serikat ke Irak sekitar tahun 2003 lalu. Dengan dipandu oleh moderator Izza Dinillah, Sekertaris Jendral FUSI F.Psikologi tahun 2009, dan pembicara Ibu Aliah B. Purwakania Hasan, MKes, Psi, atau biasa disapa Mbak Kania, seorang almunus F.Psikologi UI yang kini aktif sebagai dosen di Universitas Bunda Mulia dan aktif pula sebagai penulis berbagai jurnal dan rubrik konsultasi psikologi, peserta diajak untuk mengkaji kondisi psikologis dari anak-anak dalam cerita film ini. Salah satu yang menarik dari pembahasan mengenai kondisi psikologis dari anak-anak yang tinggal di daerah konflik ini adalah umumnya kemampuan anak-anak untuk melakukan coping terhadap situasi konflik yang dihadapinya lebih baik daripada kemampuan pada orang dewasa. Artinya, umumnya anak-anak akan lebih cepat pulih (recover) dari situasi konflik yang dialaminya, dibanding dengan orang dewasa. Namun, tetap saja hal ini bergantung pada seperti apa trauma yang diakibatkan oleh situasi konflik tadi.

Selain diisi dengan tema-tema kajian yang sangat menarik tadi, ICON ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari FIka Humairoh, seorang mahasiswa F.Psikologi UI yang membacakan sebuah puisi yang cukup menyentuh hati, berjudul “Dialog Partisi Indera”, serta penampilan dari Tim Nasyid Salman, Salam UI.

(Mochammad Ardhya, Psikologi UI 2008, Project Officer ICON, 2009)