Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 29, 2009

Mengintegrasikan Psikologi dan Islam


Data buku

Judul : Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami

Penulis : Hanna Djumhana Bastaman

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta


Psikologi yang islami merupakan salah satu buah dari pemikran dan usaha-usaha islamisasi ilmu pengetahuan atau sains yang makin marak belakangan ini, sejalan dengan makin kuatnya semangat dari umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, untuk menunjukkan bahwa memang Islam-lah rahmat bagi seluruh alam.

Buku Integrasi Psikologi dengan Islam; Menuju Psikologi Islami ini pun hadir sebagai salah satu wujud karya dari salah satu anak bangsa yang memang sangat peduli akan hal ini, Bapak Hanna Djumhana Bastaman. Melalui buku ini beliau mencoba menyampaikan pemikiran-pemikiran beliau yang disertai dengan argumen-argumen ilmiah tentang konsep psikologi yang berlandaskan citra manusia menurut konsep-konsep dalam ajaran Islam serta tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental tapi juga meningkatkan kualitas religiusitas dalam diri manusia.

Pendekatan yang dilakukan oleh pak Hanna dalam menyampaikan pemikirannya tentang psikologi yang islami ini bukanlah sebuah kritik maupun kecaman terhadap arus-arus psikologi yang memang telah mapan. Melainkan lebih kepada memberi wawasan Islam pada konsep-konsep psikologi kontemporer serta memanfaatkan hasil-hasil pemikiran ahli-ahli psikologi aliran kontemporer tersebut dalam usaha peningkatan kesejahteraan manusia, jika justru ditemukan hal-hal yang justru tidak sesuai, maka mari sama-sama kita memperbaikinya.

Buku ini sendiri terbagi dalam beberapa bagian utama. Bagian prolog mencoba memberi gambaran awal dan hal-hal pokok mengenai psikologi islami. Bagian kedua mengetengahkan pembahasan mengenai upaya menghubungkan sains dengan agama dalam konteks ilmu psikologi. Ada pula bagian ketiga buku ini mencoba mengusung konsep utama dari wacana psikologi islami, yaitu perspektif psikologi islami dalam memberikan pandangan seputar manusia, serta telaah terhadap beberapa pandangan dari berbagai aliran psikologi mengenai manusia dari sudut islam. Kemudian pada bagian keempat buku ini, Pak Hanna mencoba mengungkapkan sisi praktikal dari psikologi islami dalam menangani beberapa isu yang sering kita temukan dalam kehidupan. Dan buku ini pun ditutup melalui sebuah epilog yang membahas mengenai respon-respon yang muncul dalam menanggapi wacana psikologi islami ini.

Menurut saya, buku ini dapat memperluas perspektif kita dalam memahami islam maupun ilmu Psikologi itu sendiri. Dengan perspektif yang lebih luas, tentunya makin banyak sisi yang dapat kita gali dan optimalkan dalam menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan dan kemanusiaan yang ada pada zaman ini. Sangat cocok bagi mereka yang menaruh minat pada kajian-kajian islam, kajian ilmu-ilmu psikologi, maupun bagi mereka memang sudah berkecimpung dalam bidang psikologi ini (mahasiswa psikologi, dosen, psikolog, peneliti, dsb).


Senin, Oktober 26, 2009

Mari Membina Diri

Judul buku : Tarbiyah Dzatiyah
Penulis : Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan
Penerjemah : Fadhli Bahri, Lc.
Penerbit : An-Nadwah, Jakarta,

Tentunya kita semua pernah bertanya-tanya, mengapa dari seorang “guru” yang mengajarkan “ilmu” yang sama bisa lahir murid-murid dengan kualitas pemahaman ilmu yang berbeda-beda, ada yang sangat mahir, namun ada pula yang justru tertinggal oleh yang lainnya? Mungkin jawabannya akan beragam, tapi salah satu yang tidak boleh kita pungkiri adalah kemampuan dari “si mahir” untuk membina dirinya sendiri dengan optimal menuju kualitasnya yang terbaik. Kemampuan membina diri sendiri inilah yang diulas secara mendalam oleh Abdullah bun Abdul Aziz Al-Aidan dalam buku Tarbiyah Dzatiyah ini. Apakah makna dari tarbiyah dzatiyah itu sendiri? Makna dari tarbiyah (pembinaan) dzatiyah adalah sejumlah sarana pembinaan untuk setiap muslim dan muslimah kepada dirinya untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya, baik ilmu, iman, akhlak, sosial, dan sebagainya untuk mencapai kesempurnaan sebagai manusia.

Mengapa kita perlu Tarbiyah Dzatiyah? Menurut penulis buku ini, pembinaan yang optimal terhadap diri sendiri ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Ada banyak hal yang mendasari pernyataan ini.
Pertama, sebagai seorang muslim memang kita diperintahkan untuk memperioritaskan keselamatan diri kita dari bahaya api neraka, sebelum kita mengajak orang lain untuk juga bisa selamat dari api neraka. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam QS At-Tahrim ayat 6; “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.
Kedua, jika kita tidak berinisyatif untuk men-tarbiyah-I diri kita sendiri, lalu siapa yang akan melakukanya? Jangan sampai usia yang diberikan Allah kepada kita ini kita siasiakan dengan tidak mengoptimalkan apa yang telah Allah beri pada diri kita. Jangan lupa pula bahwa kelak hisab pada hari kiamat akan bersifat individual, artinya setiap diri kita akan diminta pertanggungjawaban atas amal perbuatannya di dunia, meskipun jika ada penyimpangan yang kita lakukan karena pengaruh orang lain. “Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri” (QS Maryam; 95).
Ketiga. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, ataupun pernah melakukan kelalaian, maka tarbiyah dzatiyah dapat menjadi upaya perbaikan diri menuju lebih baik lagi. Dengan terus mengupayakan perbaikan diri ini, seorang muslim akan semakin tsabat (sabar), istiqomah, dan mampu menjadi qudwah yang baik dalam dakwah. Dan akhirnya, dengan izin Allah kita dapat menunjukkan ke-syumul-an Islam untuk memperbaiki kondisi masyarakat saat ini yang masih kering dari nilai-nilai Islam.

Masihkah Tidak Peduli?
Sering kali ketika kita sudah mengetahui urgensi dari suatu hal, namun tetap saja pada kenyataanya "porsi" perhatian maksimal kita pada hal ini tidak maksimal. Apa sajakah penyebabnya? Dalam buku ini disebutkan beberapa penyebab masih minimnya perhatian pada tarbiyah dzatiyah ini. Diantaranya, minimnya ilmu kita tentang dalil-dalil Quran maupun Sunnah yang menganjurkan trabiyah dzatiyah ini, ketidakjelasan sasaran dan tujuan hidup yang membuat kita berjalan tanpa arah yang pasti dan akhirnya banyak mengisi kehidupan dengan hal yang sia-sia, "lengket"nya kita dengan kehidupan dunia (terlalu sibuk mencari sesuap nasi, dan hanya menaruh sedikit perhatian pada tarbiyah), pemahaman yang salah tentang tarbiyah seperti anggapan bahwa kegiatan tarbiyah membuat diri terputus dari kehidupan manusia, minimnya basis tarbiyah yang kondusif dan mampu menjaga agar tetap istiqomah, "langka"nya pembina (murabbi) yang mampu memberikan tarbiyah, taujih, dan pengamalan yang sesuai dengan kondisi "objek" yang perlu dibina, serta perasaan akan panjangnya angan-angan yang membuat kita menunda-nunda diri untuk melakukan tarbiyah pada diri.
Sarana-sarana Tarbiyah Dzatiyah
Banyak sekali sarana yang dapat digunakan untuk melakukan tarbiyah dzatiyah, diantaranya:
Muhasabah. Seluruh bagian dari hidup kita akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di akhirat kelak. Maka, tarbiyah yang dilakukan seorang muslim kepada dirinya dengan diawali melakukan muhasabah (evaluasi diri) atas kebaikan dan keburukan yang telah ia kerjakan, dll, adalah langkah yang sangat baik.

Bertaubat dai segala dosa
. Setelah melakukan muhasabah dan mengetahui hal-hal yang perlu dievaluasi dari diri kita (kesalahan ataupun dosa), maka langkah yang harus dilakukan setelahnya adalah bertaubat dengan taubat yang sebenarnya (taubatan nasuha), dan bertekad tidak pernah mengulanginya kembali.
Dosa pada hakikatnya adalah kelalaian dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban syar’I atau mengerja¬kan dengan tidak semestinya. Oleh karena itu membina diri dengan bertaubat adalah sarana yang tepat untuk meningkatkan kualitas diri dan menghindari hukuman Allah di dunia maupun akhirat atas dosa yang kita lakukan.

Mencari ilmu dan memperluas wawasan
. Dengan terus mencari ilmu dan menambah wawasan, kapasitas dan kemampuan kita dalam berbagai hal akan semakin terasah optimal. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menambah ilmu dan memperluas wawasan kita, baik itu melalui kajian ilmu agama maupun ilmu pengetahuan, membaca buku, mengunjungi ahli ilmu, dll. Yang perlu diperhatikan dalam mencari ilmu antara lain, ikhlas dalam mencari ilmu, rajin dan meningkatkan pengetahuan, menerapkan ilmu yang didapatkan, dan tunaikan hak ilmu dengan berdakwah kepada orang lain.


Mengerjakan amalan-amalan iman.
Ini merupakan sarana tarbiyah diri melalui realisasi konkret perintah-perintah Allah dan RasulNya. Bentuk realisasi konkret tersebut diantaranya; mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin, Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah, serta peduli dengan ibadah dzikir seperti membaca al-qu’ran dan berdzikir.

Memerhatikan aspek akhlak. Islam sangat peduli dengan aspek akhlaq yang baik, kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Seperti yang diungkapkan Ibnu Qoyyim rahimahullah “ Agama itu akhlak. Barang siapa meningkatkan akhlak Anda, berarti ia meningkatkan ia meningkatkan akhlak Anda”. Beberapa bentuk tarbiyah dzatiyah dalam aspek moral antara lain : sabar, membersihkan hati dari akhlak tercela, meningkatkan kualitas akhlak, bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia, serta memperhatikan etika-etika umum.

Terlibat dalam aktivitas dakwah
. Terlibat dalam aktivitas dakwah adalah salah satu sarana tarbiyah dzatiyah yang penting, karena Allah telah menyebutkan dalam surat Al-Ashr bahwa orang-orang yang tidak rugi di akhirat kelak adalah orang-orang yang memiliki empat sifat; beriman kepada Allah ta’ala, beramal shaleh, saling berwasiat dalam kebeenaran, dan saling berwasiat untuk sabar. Sifat ketiga dan keempat tidak akan dapat direalisasikan, kecuali kita menunaikan kewajiban kita untuk berdakwah ke jalan Allah.


Mujahadah
. Mujahadah atau jihad artinya bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh juga merupakan sarana penting, karena melakukan tarbiyah dzatiyah ini tidaklah mudah, banyak tantangan yang akan kita hadapi dalam melaksanakannya. Kesungguhan kita dapat ditunjukkan dengan bersabar, motivasi karena Allah ta’ala, bertahap dalam melakukannya, serta jadilah orang yang tidak lalai.


Berdoa dengan jujur kepada Allah.
Doa menjadi salah satu sarana tarbiyah dzatiyah, karena doa adalah perminaan seorang hamba kepada Tuhannya, pengakuan ketidakberdayaan, peryataan tidak punya daya dan kekuatan, serta penegasan tentang daya, kekuatan, kodrat, dan nikmat Allah ta’ala.
Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang korelasi antara doa dan tarbiyah dzatiyah, seperti dalam sabda Beliau, “Iman pasti lusuh di hati salah seorang diantara kalian, sebagaimana pakaian itu lusuh. Karena itu mintalah Allah memperbaharui iman di hati kalian.” (diriwayatkan Ath-Tabrani dan sanadnya hasan).


Apa yang kita dapat dari Tarbiyah Dzatiah
Tabiyah dzatiyah merupakan suatu proses. Jika diibaratkan dengan tanaman berbuah, maka pada akhirnya tarbiyah dzatiyah akan menghasilkan “buah yang ranum” (hasil atau manfaat) untuk kita rasakan. Beberapa manfaat yang Insya Allah akan kita rasakan diantaranya; mendapatkan keridhaan Allah dan surgaNya, kebahagiaan dan ketentraman, dicintai dan diterima Allah, sukses, terjaga dari keburukan dan hal-hal tidak mengenakkan, keberkahan waktu dan harta, kesabar atas penderitaan dan semua kondisi, dan jiwa yang merasa aman. Sungguh besar bukan manfaatnya? Semoga kita semakin termotivasi untuk melakukan tarbiyah dzatiyah ini dengan optimal.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka tidak berduka cita.” (Al-Ahqaf: 13)

“Dia yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan me¬re¬ka bertambah selain keiamanan mereka (yang ada).” (QS Al-Fath: 4)

Sabtu, September 26, 2009

Semua Bisa Jadi Pahlawan!


"Mencari Pahlawan Indonesia"

Penulis : Anis Matta

Penerbit : The Tarbawi Center, 2004

Mencari Pahlawan Indonesia merupakan kumpulan tulisan dari Anis Matta yang pernah dimuat dalam Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi. Kumpulan tulisan ini bukanlah kumpulan angan-angan tentang sosok seorang yang turun dari langit untuk menjadi juru selamat dari krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Kumpulan tulisan ini justru mengajak kita untuk bersama-sama menelaah nilai-nilai dari seorang pahlawan serta faktor-faktor dibalik kepahlawanan seseorang. Kumpulan tulisan dalam bentuk sebuah buku ini pun mengajak kita untuk menumbuhkan suatu sosok pahlawan dari dalam diri kita, karena setiap diri kita memilki potensi untuk menjadi seorang pahlawan.

Filosofi

Apakah sebenarnya “pahlawan” itu? Banyak dari kita, yang masih memiliki paradigma bahwa seorang pahlawan adalah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Padahal sebenarnya orang-orang yang kita kenal sebagai sesosok pahlawan yang nyata selama ini adalah manusia biasa pula. Manusia biasa, sama seperti kita. Karena, pahlawan sesungguhnya adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Namun, yang tidak kalah penting bagi seorang pahlawan adalah nilai keikhlasan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa “pahwalawan” dapat menjadi suatu gelar yang diberikan oleh masyarakat. Nilai keikhlasan menjadi penting sebab keikhlasan lah yang akan membawa setiap orang pada hakikat yang besar dan abadi, dimana setap orang akan ditempatkan dengan layak, adil, dan objektif.

Trilogi Dunia

Ya, pahlawan adalah seorang manusia biasa. Manusia biasa yang tentunya tidak akan lepas dari ujian Allah SWT yang terangkum dalam “trilogi dunia”; harta, tahta, dan wanita. Namun, ketika semua itu dihadapi dengan kesabaran, “trilogi dunia” dapat menjadi sumber kekuatan yang akan terus menyalakan api kepahlawanan dalam diri seseorang.

Wanita adalah sosok yang penting bagi seorang pahlawan, yang menempati ruang yang begitu luas dalam jiwa seorang pahlawan. Wanita memiliki kekuatan berupa kelembutan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang yang mampu menjadikannya penjaga spiritual dan sandaran emosi bagi sang pahlawan. Dari sosok seorang wanita inilah pahlawan dapat memperoleh kekuatan, ketenangan, kenyamanan, keamanan, dan keberanian dalam memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Salah satu contoh nyata dari peran penting seorang wanita bagi seorang pahwalan adalah kisah Khadijah yang menguatkan hati suaminya, Nabi Muhammad SAW, yang merasakan ketakutan luar biasa saat menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Jika wanita berperan dalam pembentukan jiwa pahlawan, maka untuk mewujudkan kepahlawanannya seorang pahlawan memerlukan sumber daya berupa harta. Harta bagi seorang pahlawan adalah sarana agar kepahlawanannya bisa diwujudkan di dunia materi (nyata) ini. Untuk itu, setiap pahlawan harus memaknai pengorbanan sebagai energy dari ke-zuhud-an. Energi yang akan membuat setiap pahlawan tidak nervous ketika berhadapan dengan harta dunia sehingga harta tidak pernah menemukan jalan menuju hati mereka dan akhirnya harta tersebut mampu untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

Satu bagian lagi dari trilogy dunia para pahlawan adalah “tahta”. Ibnu Qoyyim Al- Jauziah pernah berkata, “ Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia. Yang ku temukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat yang paling kuat dalam diri manusia adalah syahwat kekuasaan”. Tahta atau kekuasaan, berikut besarnya dorongan maupun godaan dibaliknya, bak dua mata pisau. Satu sisi mampu menjadi sarana untuk pahlawan mewujudkan kepahlawanannya (seperti halnya harta) namun di sisi lain tahta mampu menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan dan bisa merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri. Oleh karena itu setiap pahlawan harus menempatkan tahta sebagai sarana, bukan sebagai tujuan.

Aspek-aspek kepahlawanan

Trlogi dunia merupakan anugerah sekaligus ujian bagi para pahlawan. Anugerah jika mampu menjadikannya sebagai sarana, bukan tujuan. Menjadikannya dalam genggaman, bukan dalam hati. Apa yang membuat para pahlawan mampu melakukan hal tersebut? Selain keikhlasan dalam berbuat, factor penting lainnya adalah terasahnya aspek-aspek kepahlawanan dalam diri, yang meliputi keberanian, kesabaran, dan pengorbanan.

Setiap pahlawan merupakan seorang pemberani. Pemberani tidaklah sama dengan nekad, menjadi pemberani adalah menjadi seseorang yang sepenuhnya maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dengan menyadari sepenuhnya kemungkinan resiko yang akan diterima. Keberanian tidak akan optimal tanpa kesabaran. Atau dengan kata lain, tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Keduanya saling berkaitan karena kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa pahlawan mampu membawa beban idealisme kepahlawanan dan sekuat apa pahlawan mampu survive dalam menghadapi tekanan hidup. Aspek lain yang juga penting dalam kepahlawanan adalah pengorbanan. Pahlawan mendapatkan “gelarnya” karena begitu banyak hal telah ia korbankan atau berikan pada masyarakatnya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian, kesabaran.

Kesimpulan

Pahlawan sesungguhnya adalah hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Dengan demikian, setiap diri kita punya potensi untuk menjadi seorang pahlawan. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan potensi-potensi tersebut menjadi sarana dalam mewujudkan kepahlawanan serta tetap menjaga keikhlasan dalam berjuang.


* Tulisan ini juga bisa dilihat di Albinadigital.wordpress.com

* Terimakasih kepada Yoga (biologi UI 08) yang sudah meminjamkan buku ini. Terimakasih juga buat Zie, Marsha, Puji, & Edoy (psikologi UI 08) atas kerjasamanya dalam meeringkas isi buku ini sebelumnya, hehehe...

Jumat, Februari 27, 2009

Eh, Aku "Romantis", Lho!


Pernahkah anda mendengar atau mengetahui tentang "Eneagram"? Pernahkah seseorang (lawan jenis anda) mengatakan kepada anda bahwa anda orang yang romantis? Bagaimakah rasanya "dicap" sebagai orang yang "romantis"..??

Hehe.. Sepertinya untuk melanjutkan membaca tulisan ini mungkin kita harus saling menyamakan presepsi kita tentang kata "romantis". Apakah "romantis" yang akan saya bahas dalam tulisan ini adalah romantis dalam artian pandai merayu mesra pada lawan jenis, ahli melantunkan puisi-puisi soal "cinta", atau seperti ksatria dalam cerita-cerita abad pertengahan dari Eropa yang rela mempertaruhkan nyawanya melawan hewan buas untuk melindungi seorang putri? Haha.. salah besar Bung! Romantis yang akan saya bahas di sini adalah salah satu tipe keperibadian yang ada dalam "Eneagram"... Apa itu "Eneagram"? Bagaiamana keperibadian si tipe "Romantis"ini?

Sekilas Tentang Eneagram
Jujur, istilah “eneagram” merupakan istilah yang cukup
anyar bagi telinga saya. Pertama kali saya mendengar atau tahu istilah ini, sekitar 1 tahun yang lalu, ialah dari sebuah buku milik adik kelas saya di SMA, yang judulnya pun Eneagram, ditulis oleh Reene Baron dan Elizabeth Wagele. Buku berjudul Eneagram milik teman saya ini ternyata berisi tentang klasifikasi tipe-tipe keperibadian yang ada pada manusia. Ada 9 (sembilan) klasifikasi! Ada perfeksionis, penolong, pengejar prestasi, romantis, pengamat, pencemas, petualang, pejuang, dan pendamai. Wow! Menarik sekali cara pengklasifikasian ini! Lebih banyak daripada 4 tipe yang ada pada Personality Plus-nya Florence Litteur.

Mengapa bisa sampai ada 9 tipe? Saya tidak mengkap secara pasti sih, penyebab mengapa bisa sampai ada 9 tipe. Tapi, sejauh yang saya pahami, sembilan tipe keperibadian yang berkembang dari pada sufi di timur tengah dan kemudian disebarkan ke Eropa oleh Gurdijeff dari Russia ini menyebutkan bahwa “ia” terbentuk dari 3 “pusat” yang ada pada tubuh manusia, yaitu hati atau perasaan, kepala atau pikiran, dan perut atau naluri. Masing-masing pusat tersebut, jika ia menjadi dominan pada seseorang, ia akan menurunkan tiga tipe keperibadian. Contohnya, jika pusat yang dominan adalah “hati atau perasaan”, maka keperibadian yang diturunkan dari pusat itu adalah tipe penolong, pengejar prestasi, dan romantis. Begitu pula pada dua pusat yang lain, “kepala” akan menurunkan pengamat, pencemas, dan petualang. Sementara “perut” akan menurunkan pejuang, pendamai, dan perfeksionis. Satu hal lagi, “pusat” yang sama ini juga menimbulkan motivsi dasar yang sama dan membentuk sudut pandang yang hampir serupa. Jadi, ternyata ada jutaan orang di dunia yang kemungkinan memiliki motivasi dasar dan point of view terhadap dunia dengan cara yang sama dengan kita. Tapi, tentunya tiap individu memiliki keunikan masing-masing...

Wah, sebenarnya masih banyak hal menarik tentang 9 tipe keperibadian ini. Bacalah sendiri bukunya jika ingin tau lebih banyak.. Hahahaa!!

Ciri Tiap Keperibadian dalam Eneagram

Sekilas tadi telah saya sebutkan tentang 9 tipe keperibadian dalam eneagram ini. Ada perfeksionis, penolong, pengejar prestasi, romantis, pengamat, pencemas, petualang, pejuang, dan pendamai. Bagaimana ciri-ciri tiap-tiap orangnya?

Tipe penolong umumnya memiliki kepedulian yang tinggi, peka terhadap kebutuhan orang lain, dan juga penuh kehangatan. Lalu, orang dengan tipe pengejar prestasi umunya lebih energik, optimistis, percaya diri yang tinggi, dan “mata”nya menatap pada tujuan yang ingin diraih. Sementara itu, orang dengan tipe romantis cenderung memiliki perasaan yang peka, pribadi yang juga hangat seperti tipe penolong, dan sangat pengertian .

Selanjutnya, ada tipe pengamat yang orang-orangnya memiliki rasa dahaga yang tinggi akan ilmu pengetahuan, penuh rasa ingin tahu, sangat analitis, meskipun dia introvert . Lalu tipe pencemas yang menjunjung tinggi kesetiaan pada keluarga, teman, dan kelompoknya hingga ia manjadi sesorang yang bisa sangat dipercaya dan bertanggung jawab . Kemudian si tipe petualang yang selalu energik, optimistis, dan memiliki keinginan untuk memberikan sumbangsih bagi dunia .

Adapun tipe pejuang yang orang-orangnya terus terang, mengandalkan diri sendiri, percaya diri, dan protektif. Lalu ada pula tipe pendamai yang mudah menerima, senang membuat orang lain senang, dan merupakan pribadi yang selalu mencoba menyatu dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya . Dan terakhir, si tipe perfeksionis yang sesuai dengan namanya, merupakan orang-orang yang memegang prinsip dan berusaha menjalani hidup dengan standar ideal yang tinggi, serta relasistis dan penuh pertimbangan.

Itulah sedikit gambaran tentang ciri-ciri watak dasar orang dalam 9 tipe keperibadian di Eneagram. Jika ingin mengetahui lebih jauh lagi, ya.. bacalah sendiri bukunya.. hehe!

Satu hal lagi. Dalam eneagram ini dikenal sistem “sayap” dan “panah”. Artinya keperibadian yang anda miliki bisa jadi tidak benar-benar terkotak dalam salah satu dari 9 tipe yang ada, keperibadian anda mungkin dipengaruhi juga oleh tipe keperibadian yang ada di sebelah kiri dan kanan anda (dalam diagram Eneagram). Dan anda pun memiliki kecenderungan untuk bertingkah laku menyerupai tipe yang lain terhubung dengan tipe anda melalui garis-garis pada Eneagram. Seperti gambar di bawah ini...

Tentang Aku, si Romantis!
Nah, kalau tadi kita membahas semua tipe secara general, kini saya akan mengkhususkan pembicaraan pada tipe romantis, tipe dimana saya berada.. Tapi, dari manakah saya tau hingga dengan
semprulnya saya menyebut diri saya romantis? Tentunya itu tidak sembarangan dan seenak jidat sendiri, itu semua setelah saya mengisi semacam kuisioner yang terdapat dalam buku ini untuk mengetahui berada dalam klasifikasi apakah keperibadian yang dimiliki. Jadi, agar anda mengetahui yang mana tipe anda, jangan cuma baca tulisan ini tapi belilah (atau pinjamlah) buku ini dan isi “kuisionernya”..

Kita mulai pembicaraan tentang si romantis ini.. Romantis yang dimaksud sebagai nama bagi tipe ke-empat ini saya pikir bukanlah romantis dalam pengertian gombal seperti disebutkan di awal tulisan ini. Romantis dalam konteks eneagram berarti orang tersebut dimotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan dan ingin dipahami pula perasaanya oleh orang lain. Oleh karenanya, orang-orang romantis cenderung senang bergaul dengan orang yang suka memberinya pujian, orang-orang yang menjadi teman yang mendukung, menghargai bakat dan intuisi yang dimiliki oleh si romantis, dan orang yang bisa membuat si romantis merasa ceria, karena ia sebetulnya cukup sering durundung kesediahan. Tapi, sebaiknya jangan mengatakan bahwa si romantis ini terlalu sensitif atau bertindak berlebihan!

Wah, sepertinya repot sekali bergaul dengan si romantis ini, sangat sensitif perasaanya! Tapi, janganlah sungkan bergaul dengan mereka karena mereka ini orang yang berempati, mendukung, lembut, jenaka, penuh gairah, cerdas, membuka diri dan mudah akrab. Merka juga mampu memahami perasaan orang-orang di sekitanya dengan baik sehingga orang-orang romantis ini mampu menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain. Sisi positif lain dari orang-orang romantis adalah kreatif dan memiliki kepekaan estetis.

Namun, terkadang orang-orang romantis memang membuat kita kerepotan menjaga perasaanya karena mereka sangat mudah merasa sakit hati, mudah diselimuti perasaan kelam dan putus asa, dan sering merasa rendah diri. Selain itu, orang-orang romantis kerap kali merasa sangat bersalah ketika ia mengecewakan orang lain, sering merasa diabaikan, terobsesi dengan kekesalan, dan kadang menginginkan apa yang tidak dimilikinya.

Uh.. begitulah orang-orang yang romantis, seperti saya (jika anda memang mengenal si penulis blog ini..) perasaanya begitu peka, maka jagalah perasaanya agar tidak terluka.. Hahahaha!!!

Yap! Dari Sedikit ulasan tentang eneagram ini, hikmah yang saya pikir bisa diambil adalah bahwa tiap manusia itu berbeda satu sama lain. Maka, kita harus bisa mengenal tiap orang di sekitar kita dengan lebih dalam dan mengetahui bagaimana kecenderungan-kecenderungan yang ada pada dirinya agar interaksi kita tetap berjalan dengan sehat karena kita bisa saling memahami satu sama lain. Bagaimana menurut anda?

Data buku

judul : Eneagram; Menganal 9 Tipe Keperibadian Manusia dengan Lebih Asyik

penulis : Renee Baron & Elizabeth Wagele

penerbit : Serambi

tebal : 179 halaman


Kamis, Desember 27, 2007

Menjadi Laki-laki Sejati… (resensi)


Minggu lalu, saya dapat tugas dari guru Bahasa Indonesia saya untuk membuat resensi sebuah cerpen. Sebenarnya tugas ini merupakan tugas perbaikan nilai (remedial) ulangan, hehehe... tapi bersyukur juga lho, kena remidial yang ini (yang lain nggak deh!). Soalnya, dari situ saya dapat kesempatan untuk membaca cerpen-cerpen yang keren..! salah satunya cerpen berjudul “Laki-laki Sejati” karya Putu Wijaya, seorang sastrawan Indonesia yang terkenal serba bisa.

Nah, tulisan berikut ini merupakan rangkuman dari tugas resensi tadi, selamat membaca!

Cerpen ini bercerita tentang sorang remaja perempuan yang bertanya kepada ibunya bagaimana sih ciri-ciri seorang laki-laki sejati itu? Jika ia (si anak perempuan) itu berhasil menemukannya nanti ia ingin menikahi laki-laki sejati itu, ingin menjadikan laki-laki sejati itu pasangan hidupnya. Namun, Ibu dari anak perempuan itu akhirnya berkata bahwa laki-laki seperti itu sudah tidak ada! Sia-sia saja memimpikan laki-laki seperti itu, tidak akan ketemu! (Nah lho!)

Tokoh dalam cerpen ini hanya ada 2, yaitu si anak perempuan dan ibunya. Si anak perempuan adalah seorang anak yang memiliki keingintahuan yang luas, agak mudah putus asa, kurang pergaulan namun pintar. Sementara sang ibu, adalah seorang ibu yang bikasana, keibuan, tegas, penuh kasih sayang. Dengan alur maju cerpen ini menjelaskan bagiaman ciri-ciri seorang laki-laki sejati dari sudut pandang seorang wanita (si Ibu). Menurut ibu dari anak perempuan itu “...Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!...” Tapi, menurut si Ibu, laki-laki sejati adalah “...seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan..” dan juga “...Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!...”

Konflik terjadi dan mencapai klimaksnya ketika sang ibu berkata kepada anak perempuannya itu bahwa laki-laki seperti itu sudah tidak ada! Sudah habis! Mendengar hal itu, si anak perempuan pun merasa putus asa, merasa patah hati, ia kecewa karena laki-laki seperti yang ia impikan sudah tidak ada lagi. Meskipun si anak perempuan menunjukkan keputusasaannya, sang ibu menyuruhnya keluar, bergaul dengan masyarakat , dan carilah seorang laki-laki, siapapun dia, bagaimanapun wataknya, bagaimanapun pendidikannya. Di akhir cerita, sebagai resolusi, sang ibu kembali berkata kepada anaknya untuk jangan ragu untuk bergaul dengan laki-laki, karena setiap perempuan dapat menjadikan seorang laki-laki menjadi laki-laki sejati dengan memberinya cinta, cinta yang tulus.

Disamping mengajak kita untuk mengetahui bagimana sosok seorang laki-laki sejati itu, cerpen yang cocok untuk kalangan remaja sampai orangtua ini juga mengajak pembacanya untuk tidak ragu lagi mendiskusikan berbagai nilai-nilai penting dalam kehidupan bersama keluarga. Seperti yang terlihat di bagian awal cerpen ini, dimana diceritakan sebenarnya ibu si anak perempuan itu juga pernah ingin bertanya hal yang sama kepada ibundanya, namun ketika itu hal tersebut dianggap tabu, dan ia dianggap belum siap untuk mengetahui lebih jauh tentang rahasi-rahasia dala hidup ini. Ya, zaman memang telah banyak berubah, sudah bukan saatnya lagi untuk men-tabukan masalah-masalah yang terjadi pada kebanyakan remaja yang sedang mengarungi masa remajanya. Di usia remaja ini kita memang banyak membutuhkan bimbingan dari keluarganya dan lingkungannya sebagai bekal kita mengarungi masa remaja dengan selamat, dan menjadi bekal bagi kehidupan di masa dewasa, maupun masa-masa setelahnya.

Secara keseluruhan yang membuat saya kagum akan cerpen ini ialah pada tema yang diangkat, deskripsi tentang sosok laki-laki sejati yang disampaikan, dan gaya bahasa yang digunakan. Tema yang diangkat begitu akrab dengan kehidupan keseharian kita, terutama para remaja yang sering mendambakan sosok ideal dari seseorang yang mereka cintai, dan juga tentang bagaimana masalah-measalah remaja yang dulu tabu untuk dibicarakan kini dicoba untuk dikurangi ke-tabuannya. Deskripsi tentang sosok seorang laki-laki sejati dalam cerpen ini juga sangat gamblang dijelaskan, meskipun agak terkesan bertele-tele. Namun, tetap mudah dimengerti karena bahasa penyampaiannya yang sederhana.

Jadi secara keseluruhan cerpen ini menurut saya sangat bagus, meskipun di bagian akhir kurang dijelaskan “cinta” yang seperti apa yang dapat membuat laki-laki manapun menjadi seorang laki-laki sejati.

Cerpen “Laki-Laki Sejati” ini dapat dilihat di http://kumpulan-cerpen.blogspot.com