Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 17, 2009

Honoo no Tobira – FictionJunction (Iseng-iseng dari Facebook)

Seorang teman, sebut saja namanya "Ikbal" (bukan nama samaran), pernah memposting sebuah "notes" di sebuah situs jejaring sosial, sebut saja F***book, tentang sebuah "game" yang berkaitan dengan "playlist" dari pemutar mp3 di komputer. Kuis ini cukup lucu (pretty funny) menurut saya, karena dari sini kita bisa melihat bagaimana selera musik seseorang berdasarkan melihat lagu-lagu apa yang kiranya ada di playlistnya. Hehe.. Silahkan dibaca dan dilihat, mungkin juga Anda coba, sekaligus kita saling share tentang diri kita masing-masing melalui lagu-lagu yang menjadi favorit kita.. (kalo di playlist biasanya lagu favorit kan ya?). Hehehe..

----
This little game is pretty funny. Try it and have fun!!!
RULES:
1. Put your iTunes, Windows Media Player, etc. on shuffle.
2. For each question, press the next button to get your answer.
3. YOU MUST WRITE THAT SONG NAME DOWN NO MATTER HOW SILLY IT SOUNDS.
4. Tag 20 friends.
5. Everyone tagged as to do the same thing.
6. Have Fun!


1. IF SOMEONE SAYS 'ARE YOU OKAY' YOU SAY?
Stay the Same-Joey McIntyre
(“...Don’t you ever say you don’t like the way you are... When you learn to love yourself you better off by far...” yah.. masih nyambung lah…)

2. HOW WOULD YOU DESCRIBE YOURSELF?
Haruka Kanata- Asian KungFu Generation
(waduh.. saya tidak mengerti maksud dari lirik lagu ini.. tapi ya.. karena beat-nya cepat, mungkin maksundnya saya ini orang yang bersemangat.. benarkah?? Hahaha!)

3. WHAT DO YOU LIKE IN A GUY/GIRL?
Reflection- Christina Aguilera
(haha! Apakah berarti saya suka sisi misteriusnya..?? “...who is that girl I see?”)

4. HOW DO YOU FEEL TODAY?
Haeng Bok Ha Gil Ba Rae - Lim Hyung Joo
(wah, nggak ngerti..?!?!?!)

5. WHAT IS YOUR LIFE'S PURPOSE?
Anugerah yang Indah – Gradasi..
(wow! Semoga bisa menjadi “..[salah satu dari sekian banyak] anugerah yang [ter]indah, yang diberikanNya kepada seluruh umat di dunia…” hehehe..! aamin!)

6. WHAT'S YOUR MOTTO?
Life Goes On – Mika Arisaka
(“…Life Goes On moeagaru inochi ga aru kagiri..” , life goes on, passionately! haha!)

7. WHAT DO YOUR FRIENDS THINK OF YOU?
Rumus Canggih – Justice Voice
(weleh.. ternyata saya ini “…dibolak-balik semakin asyik…”, ”... makin dibaca [dilihat], semakin menarik..” hahaha!)

8. WHAT DO YOUR PARENTS THINK OF YOU?
Geh Deh Ji Geum - Byul
(wah, nggak ngerti juga nih.. haha! Akibat menyukai lagu tanpa mengerti maksud liriknya nih..!)

9. WHAT DO YOU THINK ABOUT VERY OFTEN?
Daybreak’s Bell – L’arc-en-ciel
(apaan nih? Apakah “daybreak’s bell” maksudnya “istirahat makan siang”? kalau ya, berarti betul.. haha!)

10. WHAT IS 2 + 2?
I Believe I Can Fly – R Kelly
(hmm.. apakah 2+2 di sini maksudnya “niat baik[1] & ikhlas[1] + optimisme[1] & kerja keras[1]” = kemampuan melakukan sesuatu yang hebat, di menembus batas imaginasi dan realitas? Haha!)

11. WHAT DO YOU THINK OF YOUR BEST FRIEND?
This Ain’t a Love Song – Bon Jovi
(waduh.. kayaknya yang masuk daftar “best friends” saya cowok semua deh.. tapi kok begini hasilnya.. “yeah, I’m wrong.. this ain’t a love song..” gawat!!)

12. WHAT IS YOUR LIFE STORY?
Kasih Putih – Snada
(haha.. betul sekali.. penuh dengan “…kasih sayang.. cinta kasih [yang] tak memilih… kasih putih [memang] karunia Illahi..”)

13. WHAT DO YOU WANT TO BE WHEN YOU GROW UP?
Generasi Harapan – Izzatul Islam
(haha! Ini baru keren.. “…di mana dicari pemuda Kahfi.. terasing demi kebenaran hakiki…”)

14. WHAT DO YOU THINK WHEN YOU SEE THE PERSON YOU LIKE?
Muhasabah Cinta - EdCoustic
(Pas banget nih! Kembalikan lagi rasa suka yang timbul pada “… Wahai Pemilik nyawaku.. kupasrahkan semua, padaMU…” karena “…kini kuharapkan cintaMU…”, sebab itulah “…muhasabah cintaku…” hehehe..!)

15. WHAT WILL YOU DANCE TO AT YOUR WEDDING?
Harmony – Padi
(wah, no comment ah.. hehe..)

16. WHAT WILL THEY PLAY AT YOUR FUNERAL?
We Believe – Good Charlotte
(haha.. bolehlah..)

17. WHAT IS YOUR HOBBY/INTEREST?
Ketika Cinta Bertasbih – Melly ft Amee
(haha! Tau aja gw “interest” buat nonton ni film.. kapan ya?)

18. WHAT IS YOUR BIGGEST FEAR?
I Don’t Wanna Miss a Thing – Aerosmith
(takut karena “…I don’t wanna miss one smile.. I don’t wanna miss one kiss…” siapa nih? Hehe.. aneh ah!)

19. WHAT IS YOUR BIGGEST SECRET?
Anak Jalanan – Snada
(hahaha.. ketahuan deh ”...tinggal di kolong-kolong jembatan.. rumah-rumah kardus...”?!)

20. WHAT DO YOU WANT RIGHT NOW?
Lupa-lupa Ingat – Kuburan Band
(yoo.. “mari-mari rame-rame kita ngumpul tapi nggak kebo..”)

21. WHAT DO YOU THINK OF YOUR FRIENDS?
Tekad – Izzatul Islam
(haha! Mari kawan sama-sama berjuang meraih keridhoan-Nya, meskipun jalan ini ”...penuh onak dan duri, aral menghadang dan kezaliman...”, karena kita adalah ”...mata pena yang tajam, yang siap menuliskan kebenaran, tanpa ragu ungkapkan keadilan...” betul?!)

22. WHAT WILL YOU POST THIS AS?
Honoo no Tobira – FictionJunction
(hehe.. inilah akhir dari kuis aneh ini..^^)
-----

gambar: http://images.techtree.com/ttimages/story/winamp5full.jpg

Minggu, Januari 04, 2009

Sebuah Catatan Perjuangan

Tetes air membasahi bumi
Mengiriingi awal penulisan kisah dalam bab ini
Kisah yang kutulis kala mata terpejam
Tuk mengkhayal mimpi nan menghujam

Meskipun penuh tanda tanya, meskipun akhir adalah misteri
Kerasnya asa membuat tinta tetap menari
Menari dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan
Memanjatkan doa-doa pengharapan

Bait demi bait, sambil ku tatap langit
Kumulai roman cita ini dengan sebuah mimpi
Mimpi tentang kisahku di bumi ini
Kisah yang menuntunku supaya ku tak mati sebagai penyakit

Kisah terus mengalir
Dengan aliran perjuangan dan doa
Dengan aliran semangat dan cinta
Dengan bumbu suka dan duka
Tiada putus cerita mengalun, tiada putus mimpi di mata

Akhirnya tiba saat bertarung
Hati menggebu menangis ragu
Hampir mustahil mimpi tercipta
Nyaris asa tiada berdaya
Namun, masih ada Yang Maha Kuasa,
Kuatkan genggaman, yakinkan perasaan
Dia takkan kecewakan hamba yang berharap padaNya

Dan bait-bait indahpun mengalun
Indah, membuat tertegun
Indah mengalun damai, meredam api dalam diri
Kini, saatnya ikhlas menyerahkan diri
Saatnya ikhlas bertarung demi impian yang tak akan terkubur

Perangpun usai, daya telah habis hingga ke nadir
Tak mampu lagi aku bertarung, tak ada lagi yang bisa kulakukan
Kecuali bait-bait indah dan doa yang mengalun
Tinggal kini serahkan diri pada ketetapan di langit

Pena dan tinta ini masih menari
Menari lembut menulis catatan kisah seorang pejuang
Tiada berhenti menari hingga akhirnya kisah ini dapat ditutup dengan syukur
Dan segala puji bagi yang berkuasa di langit
Kisah ini pun akhirnya dapat kututup dengan syukur dan cita
Tapi pena kan terus menari, menuliskan kisahku hingga akhir nanti
Demikianlah kisah bab ini kutulis
Hanyalah salah satu bab dari berjilid-jilidnya kisah kehidupan
Inilah salah satu goresan tinta yang berkilau dalam kisahku
Kisah yang kumulai dengan cita dan doa
Kisah yang kuisi dengan perjuangan, doa, dan harapan
Kisah yang kuakhiri dengan cita dan syukur

Telah kuakhiri satu bab ini dengan puji syukur
Tapi sesingguhnya perjalanan ini belumlah berakhir
Pena ini masih terus menari
Karena mimpi yang sesungguhnya masih diperjuangkan
Karena mimpi yang abadi masih belum terwujud
Demikinlah kisah sebuah mimpi kecil untuk mencapai mimpi yang abadi

Dan lembaran kisah baru telah siap tuk dituliskan...

Selasa, Oktober 21, 2008

Ngetes "Read more"...

Wah, setelah sekian lama off akhirnya, datang juga kesempatan untuk nge-blog lagi. Tapi, ternyata belum siap bahan posting selanjutnya. Maka, untuk mengisi kekosongan blog ini, dan untuk nge-tes "perubahan" yg baru kulakukan, aku post saja salah satu tugas kuliahku ini, hehehehe.. semoga bisa jadi bacaan yang bermanfaat..

Pengamatan Terhadap Petugas Pemeriksa Karcis Kereta Listrik (KRL) di Stasiun Universitas Indonesia
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang hampir setiap hari melakukan perjalanan dari Bogor ke Uni¬versitas Indonesia (UI) dengan memanfaatkan jasa kereta listrik (KRL), di semua stasiun pem¬ber¬henti¬an kereta listrik jalur Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), terdapat beberapa orang, umumnya pria, yang memakai seragam biru gelap, berjaga di sekitar pintu keluar stasiun, dan memeriksa setiap penumpang yang hendak melintasi pintu keluar stasiun apakah mereka membawa karcis kereta listik atau tidak. Orang-orang ini penulis sebut sebagai “Petugas Pemeriksa Karcis KRL”. Seperti sempat disebutkan di awal paragraf ini, di semua stasiun kereta listrik Jabodetabek terdapat petugas pemeriksa karcis KRL, termasuk stasiun UI. Melalui essay ini penulis akan menyampaikan hasil pengamatan (observasi) terhadap para petugas pemeriksa karcis KRL di Stasiun UI. Observasi atau pengamatan ini penulis lakukan dalam rangka meyelesaikan tugas observasi yang diberikan oleh dosen mata kuliah Logika dan Penulisan Ilmiah. Tugas ini deberikan untuk kelompok namun pada laporan hasil observasi nanti, setiap anggota kelompok diharusnya membuat laporannya masing-masing. Kelompok penulis memilih untuk mengobservasi petugas pemeriksa karcis ini dengan alasan agar observasi yang dilakukan tidak perlu mengambil tempat di luar kampus UI. Alasan kedua ialah karena letak stasiun UI yang tidak jauh dari area kampus Fakultas Psikologi UI. Cukup ditempuh dengan berjalan kaki sekitar dua menit dari area fakultas. Dan alasan ketiga ialah salah satu anggota kelompok pernah mempunyai penggalaman yang tidak menyena¬ng¬kan; digoda, diperlakukan tidak sopan, oleh seorang petugas pemeriksa karcis KRL. Mes¬ki¬¬pun demikian, bukan berarti observasi ini juga dilakukan untuk “balas dendam”. Observasi ini dilakukan untuk melihat apa saja yang mereka lakukan selain memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta yang datang sebelum mereka keluar dari area stasiun. Dalam mengamati hal yang dilakukan dan tingkah laku para petugas pemeriksa karcis KRL ini, penulis melakukan pengamatan sebanyak 3 kali. Satu kali dilakukan bersama-sama dengan seluruh anggota kelompok, 1 kali dilakukan sendiri oleh penulis, dan 1 pengamatan terakhir dilakukan bersama salah satu anggota kelompok bernama Junius. Observasi pertama dilakukan sendiri oleh penulis pada tanggal 7 Oktober 2008, sejak pukul 16.32 sampai dengan pukul 17.00. Dari pengamatan pertama ini, penulis mendapati bahwa petugas pemeriksa karcis KRL ini melakukan 3 hal utama (karena dilakukan berulang-ulang).
Selain memeriksa karcis penumpang yang baru turun dari kereta sebelum mereka meninggalkan stasiun, para petugas pemeriksa karcis ini juga memeriksa setiap penumpang yang masuk ke peron, memastikan mereka sudah memilki tiket untuk melakukan perjalan dengan KRL. Hal lain yang dilakukan oleh para petugas ini ialah mengawasi agar tidak ada orang yang melintasi rel kereta untuk sekedar menyebrang maupun berpindah dari peron satu ke peron yang lainnya ketika ada kereta yang hendak melintas atau memasuki stasiun UI. Ketiga hal tadi penulis asumsikan sebagai tugas untuk para petugas pemeriksa karcis KRL karena ketiga hal tadi dilakukan secara terus menerus (berulang-ulang) dalam tiga keadaan yang berbeda. Memeriksa karcis para calon penumpang dilakukan ketika tidak ada kereta yang melintas. Mengawasi agar tidak ada yang melintasi rel kereta untuk sekedar menyebrang maupun berpindah peron dilakukan ketika kereta yang hendak melintas maupun masuk dan berhenti di stasiun. Dan memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta sebelum meninggalkan area Stasiun UI saat ada kereta yang berhenti.

Observasi berikutnya (kedua dan ketiga) dilakukan pada 8 dan 10 Oktober 2008. Observasi kedua (8 Oktober 2008) penulis lakukan bersama seluruh anggota kelompok pada pukul 16.51 hingga pukul 17.15. Hasil observasi yang kedua ini tidak menunjukkan adanya tugas lain dari para petugas pemeriksa karcis KRL selain ketiga tugas yang sudah disebutkan sebelumnya. Pada observasi ketiga (10 Oktober 2008, 18.55-19.10) pun sama. Tugas dari para petugas pemeriksa karcis yang teramati oleh penulis tidaklah berbeda dari hasil dua pengamatan sebelumnya. Memeriksa karcis, memastikan para calon penumpang sudah memiliki karcis, dan mengawasi agar tidak ada yang melintasi rel kereta saat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun atau hanya melintas. Dari kesamaan ini kita dapat berasumsi bahwa memang tugas petugas pemeriksa karcis KRL adalah ketiga hal yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Ada pula fakta lain yang penulis dapati dari hasil observasi ini adalah petugas pemeriksa karcis ini kadang bertukar posisi dan pekerjaan dengan petugas yang bertanggung jawab pada penjualan karcis, atau dengan kata lain dapat terjadi pergiliran tugas antara petugas pemeriksa karcis dengan petugas yang menjual karcis.

Cara para petugas tersebut melaksanakan tugas-tugasnya juga penulis observasi. Tugas memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta dilakukan dengan berdiri di dekat pintu ke arah luar area stasiun, karena ada 2 pintu ditempatkanlah masing-masing 2 petugas di setiap pintu sehingga total petugas yang bertugas saat itu ada 4 orang, berdiri dengan posisi siap menghadang penumpang yang mencoba melewati tanpa mau menyerahkan karcis. Terlihat agak sulit untuk mencoba melewati mereka tanpa menyerahkan karcis. Namun, bukan berarti tidak ada celah. Dari yang penulis amati, jika ada sesuatu yang mengalihkan perhatian para petugas pemeriksa karcis seperti orang lain yang memanggil, lamanya penumpang mempersiapkan karcis untuk diserahkan, maupun terlalu ramainya stasiun akibat “jam sibuk”, kesempatan untuk bisa melewati pintu tanpa harus meyerahkan karcis bisa terbuka. Penumpang yang tidak memilki karcis bisa memanfaatkan kelengahan ini untuk lewat begitu saja tanpa memberikan bukti bahwa ia telah membeli karcis perjalanan. Sementara dalam mengawasi agar tidak ada penumpang yang melintasi rel ketika ada kereta yang hendak memasuki stasiun, petugas pemeriksa karcis kerap beberapa kali terlihat memperingatkan penumpang untuk menunggu kereta lewat (masuk) terlebih dahulu baru menyebrang. Beberapa kali terlihat para salah seorang dari petugas tadi meniupkan peluit untuk memperingatkan penumpang akan adanya kereta yang akan melintas. Namun tetap saja ada yang menyebrangi rel kereta. Secara umum para petugas ini akan bersikap tegas dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tapi bukan berarti mereka tidak ramah. Di beberapa kesempatan penulis melihat para petugas ini bersenda gurau dengan penumpang-penumpang yang sudah akrab dengan mereka.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa dari tiga kali observasi tugas petugas pemeriksa karcis KRL adalah memeriksa karcis penumpang baik yang turun maupun yang hendak naik KRL dan mengawasi keselamatan penumpang di stasiun.


Minggu, April 27, 2008

Bulan Purnama di Senja Hari...

(tulisan berikut ini bisa dibilang dua buah puisi...)

-----

Senja hari

Ketika langit berhenti menangis
Ketika sang surya hampir pergi
Pergi bersama burung-burung kembali ke peraduannya

Ketika itu, aku menatap atap dunia
Merah, merona
Dihiasi juntaian selendang bidadari-bidadari kayangan

Ketika itu kuteringat akan dirinya
Dirinya yang telah pergi
Pergi meninggalkan diriku
Bersama kenangan seindah pelangi
Bersama luka semerah langit ini

Oh lembayung senja,
Betapa cantik kulihat dirimu
Betapa anggun pelangi membelaimu
Oh, betapa inginnya aku bertemu lagi denganmu
Melihat rona indah merahmu
Melihat kilau senyum pelangimu..

-----

Bulan purnama

Aku berbaring di rerumputan
Kurebahkan diriku diantara warna hijau kehitaman
Kehitaman karena langitpun hitam

Lalu kubuka mataku
Kumenatap ke hitamnya atap dunia
Kuhela nafasku dalam-dalam
Kurasakan dingin merasuki tubuhku
Dingin, namun aku merasakan kedamaian
Aku merasakan keindahan di balik kegelapan

Lalu kulihat dirimu disana,
Bersama bintang-bintang kautersenyum padaku
Akupun membalas senyumanmu

Senyummu menerangi jiwaku
Menerangi kembali jiwa yang mati,
Membangkitkan kembali harapan yang terkubur
Menyatukan kembali mimpi yang terberai...

Wahai pemilik senyuman indah,
Meskipun senyum bintang-bintang tak kalah indahnya,
Tapi senyumulah yang selalu hadir dalam mimpiku
Menerangi jiwaku, mengantarku melewati kegelapan ini

Oh pemilik senyuman putih dan suci,
Bisakah kita bertemu kembali esok malam?

Aku ingin melihatmu tersenyum lagi,
Karena cuma itu yang mungkin aku lakukan...


-----

Puisi-puisi di atas sebnarnya dua dari beberapa puisi yang saya buat untuk menyelesaikan tugas pelajaran bahasa indonesia,tugas membuat puisi tentang keindahan alam. Bagaiamana menurut Anda, apakah puisi-puisi tadi cocok untuk menggambarkan keindahan alam??

Hwehehee....