Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 08, 2009

Cerita Tentang Belajar dan Peluang Kerja di Bidang Psikologi

Hmm.. sedikit mau berbagi cerita (alias curhat) saja berkaitan dengan sebuah pengalaman yang alami. Pengalaman yang mungkin bisa menjadi bahan renungan juga, khususnya untuk saya dan mungkin juga mahasiswa jurusan psikologi yang lain, karena yang saya alami adalah pertanyaan dari seorang murid kelas X sma tentang peluang atau prospek kerja dari seorang sarjana psikologi. Yah, pertanyaan yang menurut saya wajar muncul dari seorang anak yang mencoba membuat peta besar dari kehidupannya kelak (cita-cita pekerjaan di masa depan), namun tetap perlu mendapat apresiasi tinggi karena umumnya (berdarkan hasil survei asal-asalan saya dari dulu..) siswa kelas x sma masih menjalani hidupnya dengan “go wherever wind blow”. Usaha untuk menjawab satu pertanyaan ini, dimana obrolan kecil itu akhirnya menjadi sebuah forum duduk melingkar dengan peserta sekitar 7-8 siswa kelas x termasuk saya, saya rasakan sedikit menegur saya terutama berkaitan dengan apa yang hendak saya lakukan setelah lulus sarjana psikologi. Hueh.. inilah rangkaian kisahnya...

Peristiwa ini terjadi hari Jumat, 5 Juni, lalu. Seperti biasa, hari Jumat menjadi hari untuk menjalankan amanah menjadi seorang pembimbing atau pembina (yang membina[sakan].. hehe!) diskusi tema-tema keislaman bersama siswa-siswa kelas x sma. Kebetulan Jumat lalu merupakan hari masuk sekolah (kbm) terakhir sebelum ulangan semester di hari senin pekan berikutnya. Jadi untuk diskusi saat itu, saya berencana melakukan sharing antar anggota diskusi (terutama dengan siswa kelas X3, yang saya “pegang”) tentang kiat-kiat sukses dalam menghadapi ujian, tes, atau ulangan serta membahas sedikit tentang “prinsip-prinsip belajar dalam Al-Quran” dari buku “Al-Quran dan Psikologi” yang ditulis oleh Muhammad Usman Najati (thanks to akh Fajar atas bukunya). Intinya sih untuk memberikan “suntikan” motivasi bagi mereka dalam menghadapi ulangan semester ini. Seperti biasa, manusia boleh menyusun rencana tapi Allah lahh yang akan menentukan, dan ketetapan Allah lah yang memang terbaik untuk mahluk-Nya. Ternyata situasi di lapangan sulit mewujudkan rencana tadi. Ya sudah, jadinya dimulai dengan forum kecil, berempat dengan saya, kita coba ngobrolin berbagai hal seputar dunia pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Kebetulan diantara 4 orang tadi ada pula teman yang terhitung masih kelas XII dan masih bersiap menyambut “dunia baru” yang akan segera dihadapinya (ni orang udah dapet PMDK ke UI jurusan teknik elektro).
Dengan ditemani sebungkus wafer rasa keju (isi 8 wafer.. [serius isinya memang 8, tiada tendensi maupun maksud apapun.. hehe..]) obrolan pun mengalir hangat dan akrab. Mulai dari kisah-kisah “garing” dan sedikit lawakan yang memaksa kami untuk saling tertawa (tragis!) hingga cerita tentang point-point menarik dari sebuah buku pembangun motivasi yang bertemakan sukeses dengan berpikir “out of the box” (tapi lupa judul bukunya apa). Sampai akhirnya pertanyaan tentang mengapa akhirnya saya memilih untuk kuliah di jurusan psikologi yang akhirnya memicu munculnya pertanyaan “ aa’ (sunda: kakak), emang peluang kerja lulusan psikologi tuh apa aja?”. Tanpa disadari forum kecil itu telah meluas. Dalam lingkaran itu kini ada sekitar 8 orang. Orang-orang yang menyusul bergabung tadi adalah anak-anak kelas x juga yang sejak obrolan kecil tadi dimulai memang telah “konkow” ada di sekitar kami.
Menjawab pertanyaan tentang alasan kenapa akhirnya memilih kuliah di jurusan psikologi membawa diri ini sedikit bernostalgia dengan masa lalu. Jadi ingat saat-saat di mana diri ini begitu terobsesi dengan pelajaran biologi, terutama setelah membaca buku-buku Harun Yahya (sekitar saat masih kelas X sma), dan akhirnya pernah bercita-cita menjadi seorang ahli biologi (dibuktikan dengan memilih melanjutkan ke program ipa di kelas xi, meskipun nilai mipa selain biologi dan kimia begitu “mengenaskan”). Namun, ternyata belakangan saya ketahui ada keunikan pada mata saya yang tidak memungkinkan saya untuk menjadi ahli biologi secara formal. Rencana dibalik ketetapan Yang Maha Kuasa memang indah. “Kedua mata” ini akhirnya “menuntun” saya di kelas xii untuk memutuskan “banting stir” saat kuliah nanti dengan masuk ke jurusan sosial-humaniora dan akhirnya memilih psikologi sebagai “next destination” saya. Ternyata memang inilah jalan yang indah untuk saya lalui. (Duh.. jadi curhat gini..^^).
Kembali ke perbincangan tentang prospek kerja di bidang psikologi. “Adik-adik” saya ini pun sempat mengajukan pertanyaan berkaitan dengan “psikolog” dan “psikiater”. Saya pun menjawabnya dengan mengatakan bahwa psikiater adalah dokter yang kemudian mempelajari ilmu kejiwaan. Sehingga dalam terapi yang mereka berikan mereka boleh menggunakan obat-obatan tertentu. Berbeda dengan psikolog yang merupakan lulusan magister profesi psikologi yang terapinya lebih ke arah pembentukan tingkah laku dari si pasien. Oh ya, berkaitan dengan penggunaan obat-obatan oleh psikiater, ternyata salah seorang diantara ‘adik-adik” saya ini ada yang nyeletuk (dengan nada kesel-ngeremehin) “ah, obat-obatnya itu obat bohongan tau..” (menyimpulkan bahwa obat tersebut tidak punya efek medis sama-sekali). Haha! Saya pun sedikit tertawa, sambil dalam hati bertanya “benarkah kenyataanya seperti itu?”. Kemudian saya terangkan sedikit kepada mereka bahwa itu adalah “placebo effect” yatu mensugesti si pasien dengan suatu “janji” tentang khasiat tertentu dari suatu bahan, padahal bahan yang dimaksud tidak mengandung khasiat apapun secara medis. Hehehe...

Seakan masih “haus darah”, anak-anak muda penuh rasa ingin tahu (tapi tempe nggak deh.. ) ini pun kembali berkicau.. “trus, lulusan S1 kerjanya apaan a’?” Hmm.. ini nih pertanyaan yang cukup “nonjok ati”, membuat diri ini seakan diingatkan untuk berpikir “nanti setelah lulus mau ngapain.. (mau kerja apa, dimana?)”. Yah, memang sih saya akui bahwa “plan A” sejauh ini, yaitu setelah lulus sarjana adalah meneruskan ke program S2 dengan beasiswa (insya Allah.. Aamin!), membuat fokus pikiran saya hanya bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut. Perihal jika “diharuskan” kerja terlebih dahulu memang agak tidak saya pikir mendalam. Jadi agak bingung juga deh untuk menjawab pertanyaan mengenai prospek kerja dari sarjana psikologi ini. But.. akhirnya pertanyaan tersebut saya jawab dengan nyeletuk.. “rental!” (sambil gaya serius padahal main-main). Mereka pun shock dan berkata “hah! Parah! Serius?!”. Dan saya jawab lagi.. “haha! Ya nggaklah..” (maksudnya peluang kerja lulusan psikologi itu lebih luas lagi, tidak cuma jadi penjaga rental.. hehe.. parah nih, mentang-mentang juga punya obsesi mendirikan sebuah bisnis warnet..-_-). Jawaban agak serius kemudian saya berikan (dengan diawali sedikit ngemeng.. hehe..).. “..gini.. psikologi itu nanti cabangnya ada banyak.. (berdasarkan peminatan yang ada di S1 psikologi UI) ada psikologi klinis, psikologi industri dan organisasi, psikologi pendidikan, psikologi sosial, dan psikologi perkembangan. Jadi (intinya) sarjana psikologi itu bisa jadi konsultan untuk masing-masing bidang tersebut. Bisa juga jadi trainer (kayak Mario Teguh ataupun Ary Ginanjar gitu-gitu..), ada juga yang buka usaha outbond training (seperti pengalaman yang diceritakan oleh salah seorang senior yang sudah lulus), kerja di bagian HRD (human resources development) di suatu perusahaan termasuk bagian penyeleksi karyawan-karyawan yang mau masuk. Dll. Belum lagi ada survei yang menyatakan bahwa hampir 100% lulusan psikologi UI langsung diterima di lapangan kerja (survei ini diceritakan oleh seorang teman, entah valid atau tidak.. hehe.. dan kemudian salah seorang dari peserta obrolan ini, yang sudah kelas xii tadi meng-iya-kan hal tersebut). Jadi.. tak usah khawatirlah akan dunia kerja, lagipula lulusan psikologi itu “jiwa-jiwanya bebas” dan kreatif deh.. (pemikiran semprul diri sendiri..). hehehe...”

Yah, itulah sedikit obrolan yang kemudian, tepat setelah pembahasan tentang peluang kerja sarjana psikologi itu, sedikit demi sedikit bubar karena memang sudah agak sore jadi bebrpa diantara peserta forum ini ada yang izin pulang duluan. Yah.. semoga peristiwa ini menjadi suatu sinyal positif bahwa makin banyak ikhwan-ikhwan (lelaki-lelaki) yang tertarik dengan ilmu yang di UI sendiri fakultasnya didominasi oleh perempuan ini. Hehehe..
Demikianlah kisah ini. By the way, apa aja sih peluang kerja bagi sarjana psikologi? (lho?! Jadi saya yang juga ikutan bertanya gini..?! hehe..)


Selasa, April 07, 2009

Persamaan dan Perbedaan antara Psikologi, Sosiologi dan Psikologi Sosial

Apakah persamaan dan perbedaan antara psikologi, sosiologi dan psikologi sosial? Sarwono (1978) menyatakan bahwa selain psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, biologi, dan sebagainya juga mempelajari tentang tingkah laku manusia. Hanya saja tiap disiplin ilmu tadi memiliki sudut pandangnya masing-masing. Adakah persamaan yang lain antara psikologi, sosiologi, dan psikologi sosial? Apakah membedakan ketiga ilmu ini? Berikut ini akan saya coba uraikan secra singkat persamaan dan perbedaan antara psikologi, sosiologi, dan psikologi sosial ditinjau dari definisi, objek, tujuan, dan pokok bahasan dari masing-masing ilmu ini (psikologi, sosiologi, dan psikologi sosial)

Psikologi secara harfiah berasal dari kata “psyche” yang artinya (dalam bahasa Indonesia) “jiwa” dan “logos” yang dapat diartikan sebagai “perkataan/ilmu”. Sehingga oleh kebanyakan orang indonesia psikologi diartikan sebagai ilmu tentang jiwa. Padahal, agar kriteria sebagai ilmu pengetahuan dapat terpenuhi, psikologi akan lebih tepat jika dimaknai sebagai ilmu tentang tingkah laku yang merupakan ekspresi dari jiwa (Sarwono, 1978). Tingkah laku merupakan fokus pembahasan dari psikologi. Tidak hanya tingkah laku individu yang ditampakkan saja, melainkan juga eksistentensi atau jejak dari tingkah laku tersebut seperti kebiasaan, cara bicara, cara berfikir, pandangan hidup, cita-cita, kecerdasan, sikap, dan sebagainya.

Sosiologi Sosiologi, secara harfiah berasal dari kata “socius” yang dapat berarti “teman” dan “logos”. Beberapa orang ahli mencoba memberikan definisi bagi sosiologi ini, diantaranya Emile Durkheim yang mendefinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu . Definisi lain dari sosiologi juga diberikan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yaitu ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Objek yang dikaji dalam sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut, dengan pokok bahasan berupa kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial (http://organisasi.org/de­finisi-pengertian-sosiologi-objek-tujuan-pokok-bahasan-dan-bapak-ilmu-sosiologi). Selain itu, sosilogi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian (Mustafa, Perspektif dalam Psikologi Sosial). Dengan objek dan pokok-pokok kajian ini diharapkan tercapainya tujuan mempelajari sosiologi yaitu untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Psikologi sosial merupakan cabang dari dari ilmu psikologi yang menelaah secara mendalam segala aspek dari pikiran sosial (social tought) dan tingkah laku sosial (sosial behaviour) (Coolidge, General Psychology: A Paradigmatic Approach). Psikologi sosial mengkaji bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh keberadaan baik secara nyata, imajinasi, maupun hanya secara tersirat oleh orang selain dirinya (http://en.wiki­pedia.org/wiki/Social_psychology_(psychology)). Tujuan dari psikologi sosial adalah menemukan mengapa terdapat bermacam-macam perilaku yang terdapat pada masyarakat (people). Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus dari pengkajian psikologi sosial adalah attribution yaitu penyebab dibalik perilaku orang selain subjek, sosial cognition atau proses-proses berkaitan dengan bagaimana seseorang memperhatikan, menginterpretasi, mengingat, dan menggunakan informasi-informasi dari lingkungan sosialnya, serta attitudes representasi mental dan evaluasi dari bermacam aspek tentang dunia sosial.


Dari uraian ini saya menyimpulkan bahwa psikologi, sosiologi, dan psikologi sosial memiliki persamaan objek yang dipelajari, yaitu tingkah laku manusia. Perbedaan antara ketiga ilmu tersebut adalah pada sudut pandang dan pokok bahasan dalam mengkaji tingkah laku ini. Psikologi memfokuskan pada tingkah laku seseorang sebagai ekpresi dari keberadaan jiwa dalam tubuh seseorang. Sosiologi memiliki fokus kajian bagaimana tingkah laku seseorang dalam me­nyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Sementara psikologi sosial melihat bagaimana pengaruh lingkungan sosial terhadap tingkah laku individu.


Referensi

Sarwono, Sarlito W. 1978. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Coolidge, Predrick H. General Psychology: A Paradigmatic Approach: Pearson Custom Publishing

Mustafa, Hasan. Perpektif dalam Psikologi Sosial.http://www.gumilarcenter.com/Makalah/PERSPEKTIFDALAMPSIKOLOGISOSIAL.pdf. Diakses pada 7 April 2009, 02.00 WIB.

http://organisasi.org/definisi-pengertian-sosiologi-objek-tujuan-pokok-bahasan-dan-bapak-ilmu-sosiologi#comment-24706 Diakses pada 7 April 2009, 02.02 WIB

Social Psychology (Psychology). http://en.wikipedia.org/wiki/Social_psychology_(psychology) Diakses pada 7 April 2009, 08.30 WIB

Gambar: dspace.mit.edu/.../0/chp_9_70_sepia.jpg






Selasa, Oktober 21, 2008

Ngetes "Read more"...

Wah, setelah sekian lama off akhirnya, datang juga kesempatan untuk nge-blog lagi. Tapi, ternyata belum siap bahan posting selanjutnya. Maka, untuk mengisi kekosongan blog ini, dan untuk nge-tes "perubahan" yg baru kulakukan, aku post saja salah satu tugas kuliahku ini, hehehehe.. semoga bisa jadi bacaan yang bermanfaat..

Pengamatan Terhadap Petugas Pemeriksa Karcis Kereta Listrik (KRL) di Stasiun Universitas Indonesia
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang hampir setiap hari melakukan perjalanan dari Bogor ke Uni¬versitas Indonesia (UI) dengan memanfaatkan jasa kereta listrik (KRL), di semua stasiun pem¬ber¬henti¬an kereta listrik jalur Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), terdapat beberapa orang, umumnya pria, yang memakai seragam biru gelap, berjaga di sekitar pintu keluar stasiun, dan memeriksa setiap penumpang yang hendak melintasi pintu keluar stasiun apakah mereka membawa karcis kereta listik atau tidak. Orang-orang ini penulis sebut sebagai “Petugas Pemeriksa Karcis KRL”. Seperti sempat disebutkan di awal paragraf ini, di semua stasiun kereta listrik Jabodetabek terdapat petugas pemeriksa karcis KRL, termasuk stasiun UI. Melalui essay ini penulis akan menyampaikan hasil pengamatan (observasi) terhadap para petugas pemeriksa karcis KRL di Stasiun UI. Observasi atau pengamatan ini penulis lakukan dalam rangka meyelesaikan tugas observasi yang diberikan oleh dosen mata kuliah Logika dan Penulisan Ilmiah. Tugas ini deberikan untuk kelompok namun pada laporan hasil observasi nanti, setiap anggota kelompok diharusnya membuat laporannya masing-masing. Kelompok penulis memilih untuk mengobservasi petugas pemeriksa karcis ini dengan alasan agar observasi yang dilakukan tidak perlu mengambil tempat di luar kampus UI. Alasan kedua ialah karena letak stasiun UI yang tidak jauh dari area kampus Fakultas Psikologi UI. Cukup ditempuh dengan berjalan kaki sekitar dua menit dari area fakultas. Dan alasan ketiga ialah salah satu anggota kelompok pernah mempunyai penggalaman yang tidak menyena¬ng¬kan; digoda, diperlakukan tidak sopan, oleh seorang petugas pemeriksa karcis KRL. Mes¬ki¬¬pun demikian, bukan berarti observasi ini juga dilakukan untuk “balas dendam”. Observasi ini dilakukan untuk melihat apa saja yang mereka lakukan selain memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta yang datang sebelum mereka keluar dari area stasiun. Dalam mengamati hal yang dilakukan dan tingkah laku para petugas pemeriksa karcis KRL ini, penulis melakukan pengamatan sebanyak 3 kali. Satu kali dilakukan bersama-sama dengan seluruh anggota kelompok, 1 kali dilakukan sendiri oleh penulis, dan 1 pengamatan terakhir dilakukan bersama salah satu anggota kelompok bernama Junius. Observasi pertama dilakukan sendiri oleh penulis pada tanggal 7 Oktober 2008, sejak pukul 16.32 sampai dengan pukul 17.00. Dari pengamatan pertama ini, penulis mendapati bahwa petugas pemeriksa karcis KRL ini melakukan 3 hal utama (karena dilakukan berulang-ulang).
Selain memeriksa karcis penumpang yang baru turun dari kereta sebelum mereka meninggalkan stasiun, para petugas pemeriksa karcis ini juga memeriksa setiap penumpang yang masuk ke peron, memastikan mereka sudah memilki tiket untuk melakukan perjalan dengan KRL. Hal lain yang dilakukan oleh para petugas ini ialah mengawasi agar tidak ada orang yang melintasi rel kereta untuk sekedar menyebrang maupun berpindah dari peron satu ke peron yang lainnya ketika ada kereta yang hendak melintas atau memasuki stasiun UI. Ketiga hal tadi penulis asumsikan sebagai tugas untuk para petugas pemeriksa karcis KRL karena ketiga hal tadi dilakukan secara terus menerus (berulang-ulang) dalam tiga keadaan yang berbeda. Memeriksa karcis para calon penumpang dilakukan ketika tidak ada kereta yang melintas. Mengawasi agar tidak ada yang melintasi rel kereta untuk sekedar menyebrang maupun berpindah peron dilakukan ketika kereta yang hendak melintas maupun masuk dan berhenti di stasiun. Dan memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta sebelum meninggalkan area Stasiun UI saat ada kereta yang berhenti.

Observasi berikutnya (kedua dan ketiga) dilakukan pada 8 dan 10 Oktober 2008. Observasi kedua (8 Oktober 2008) penulis lakukan bersama seluruh anggota kelompok pada pukul 16.51 hingga pukul 17.15. Hasil observasi yang kedua ini tidak menunjukkan adanya tugas lain dari para petugas pemeriksa karcis KRL selain ketiga tugas yang sudah disebutkan sebelumnya. Pada observasi ketiga (10 Oktober 2008, 18.55-19.10) pun sama. Tugas dari para petugas pemeriksa karcis yang teramati oleh penulis tidaklah berbeda dari hasil dua pengamatan sebelumnya. Memeriksa karcis, memastikan para calon penumpang sudah memiliki karcis, dan mengawasi agar tidak ada yang melintasi rel kereta saat ada kereta yang hendak masuk ke stasiun atau hanya melintas. Dari kesamaan ini kita dapat berasumsi bahwa memang tugas petugas pemeriksa karcis KRL adalah ketiga hal yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Ada pula fakta lain yang penulis dapati dari hasil observasi ini adalah petugas pemeriksa karcis ini kadang bertukar posisi dan pekerjaan dengan petugas yang bertanggung jawab pada penjualan karcis, atau dengan kata lain dapat terjadi pergiliran tugas antara petugas pemeriksa karcis dengan petugas yang menjual karcis.

Cara para petugas tersebut melaksanakan tugas-tugasnya juga penulis observasi. Tugas memeriksa karcis para penumpang yang baru turun dari kereta dilakukan dengan berdiri di dekat pintu ke arah luar area stasiun, karena ada 2 pintu ditempatkanlah masing-masing 2 petugas di setiap pintu sehingga total petugas yang bertugas saat itu ada 4 orang, berdiri dengan posisi siap menghadang penumpang yang mencoba melewati tanpa mau menyerahkan karcis. Terlihat agak sulit untuk mencoba melewati mereka tanpa menyerahkan karcis. Namun, bukan berarti tidak ada celah. Dari yang penulis amati, jika ada sesuatu yang mengalihkan perhatian para petugas pemeriksa karcis seperti orang lain yang memanggil, lamanya penumpang mempersiapkan karcis untuk diserahkan, maupun terlalu ramainya stasiun akibat “jam sibuk”, kesempatan untuk bisa melewati pintu tanpa harus meyerahkan karcis bisa terbuka. Penumpang yang tidak memilki karcis bisa memanfaatkan kelengahan ini untuk lewat begitu saja tanpa memberikan bukti bahwa ia telah membeli karcis perjalanan. Sementara dalam mengawasi agar tidak ada penumpang yang melintasi rel ketika ada kereta yang hendak memasuki stasiun, petugas pemeriksa karcis kerap beberapa kali terlihat memperingatkan penumpang untuk menunggu kereta lewat (masuk) terlebih dahulu baru menyebrang. Beberapa kali terlihat para salah seorang dari petugas tadi meniupkan peluit untuk memperingatkan penumpang akan adanya kereta yang akan melintas. Namun tetap saja ada yang menyebrangi rel kereta. Secara umum para petugas ini akan bersikap tegas dalam melaksanakan tugas-tugasnya, tapi bukan berarti mereka tidak ramah. Di beberapa kesempatan penulis melihat para petugas ini bersenda gurau dengan penumpang-penumpang yang sudah akrab dengan mereka.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa dari tiga kali observasi tugas petugas pemeriksa karcis KRL adalah memeriksa karcis penumpang baik yang turun maupun yang hendak naik KRL dan mengawasi keselamatan penumpang di stasiun.


Minggu, Agustus 03, 2008

Pembekalan Dunia Kampus dengan IT...

Alhamdulillah, ternyata di smansa itu banyak orang baik. Buktinya, Aa-Teteh dari angkatan yang sudah lulus (alumni) lebih dulu dari saya masih rela mengadakan suatu acara bertema pembekalan dunia kampus (kuliah) kepada kami, angkatan yang baru saja lulus, Bajigur plin-plan! Ya! Nama acaranya IT, Integrated Training!
Nah, melalui tulisan ini saya akan berbagi cerita mengenai acara yang diadakan Sabtu-Minggu, 26-27 Juli 2008 di Saung Wira, Ciawi, Bogor. Selamat membaca!

Integrated Training

Secara harfiah, integrated training berarti pleatihan secara terpadu. Jadi dalam acara ini kami, para peserta, tidak hanya mendapat materi pembekalan kehidupan kampus tapi juga tentang tarbiyah dan tentang Forkom Alims. Dengan ditambah acara muhasabah yang kotor-kotoran, game-game yang melatih kerjasama serta kekompakan dalam tim, juga acara yang menjadi acara inti bagi peserta ikhwan, main bola, acara ini meninggalkan kesan tersendiri bagi kami yang mengikutinya (halah!). Pokoknya, seru lah! Nggak nyesel ngerogoh kocek Rp.15.000 di tengah hiperinflasi yang sedang melanda Zimbabwe saat itu. (lho?! Apa hubungannya..??)
Supaya tulisan ini juga dapat berbagi ilmu, berikut sekilas materi-materi yang disampaikan dalam IT;

Pembekalan Kampus
Yap! Inilah materi paling ditunggu oleh saya, pembekalan tentang kehidupan kampus. Secara gitu waktu itu saya masih blank tentang kehidupan kampus karena belum pasti bakal kuliah di mana (kan waktu itu masih nunggu pengumuman snmptn), sementara sebagian besar teman yang ikut tu yang udah keterima di beberapa PTN negeri top di Indonesia dan sudah ada kegiatan-kegiatan seperti pra-ospeknya gitu..
Dan dari pemberian materi “Pembekalan Kampus” ini dapat saya simpulkan bahwa kehidupan kampus itu berbeda dengan kehidupan SMA. Baik dari sisi kehidupan akademis maupun kehidupan sosial sebagai mahasiswa. Dari segi akademis perbedaan terletak di sistem pendidikan, karena di kampus nanti sistem yang dipakai itu sistem SKS, sistem kredit semester, seperti apa penjelasannya? Di lain waktu aja ya.. hehe..
Bagaimana dengan kehidupan sebagai mahasiswa? Hmm.. mungkin ini yang perlu diwaspadai. Dengan makin luasnya pergaulan dan makin beregamnya sifat, perilaku, dan latar belakang kehidupan teman-teman kita nanti, maka alumni pengisi materi tentang kehidupan kampus ini, A’Fahmi kalau tidak salah namanya, berkata “Bohong bila jati diri ditentukan waktu SMA! Jati diri kalian yang sesungguhnya akan terbentauk nanti, di kampus kalian!” beuh..! Kemudian ada satu prinsip penting yang harus kita pegang teguh dalam bergaul di dunia kampus nanti, “berbaur tapi tidak melebur”, maksudnya bergaulah dengan siapapun tanpa pandang bulu, tapi jangan sampai kehilangan identitas baik atau nilai-nilai positif yang sudah kita pegang sebelumnya. Jangan sampai kita ikut gila karena kita juga bergaul dengan orang gila, begitulah kira-kira...
Lalu, masih tentang kehidupan kampus, A’Fahmi juga sedikit menjelaskan tentang kehidupan ekstrakulikuler di kampus pada umumnya, karena biasanya di tiap fakultas itu berbeda-beda. Seperti, kalau di kampus itu OSIS-nya barwujud BEM (badan eksekutif mahasiswa) lalu kegiatan ekstrakulikuler seperti yang ada di sma di kampus namanya jadi UKM (unit kegiatan mahasiswa) dan HIMPRO (himpunan mahasiswa profesi). Bedanya UKM dengan HIMPRO apa? Ya... himpro itu bisa dibilang kegaitannya lebih ke arah profesi-profesi tertentu di masyarakat yang sesuai dengan fakultas di mana kita berada. Getoo...
Oh ya, yang juga perlu diperhatikan dalam kehidupan kampus ialah tentang terdapatnya berbagai ideologi-ideologi maupun aliran-aliran dari ajaran tertentu yang dikhawatirkan menyimpang dari kaidah yang seharusnya. Untuk masalah ini kita harus berkonsultasi dengan mentor, guru agama, atau orang yang kita yakini pemahaman agamanya baik dan tidak akan menyesatkan kita. Jadi, wapadalah..! semoga Allah selalu melindungi kita..

Materi lainnya...
Waduh... sebenernya masih ada materi lain yang disampaikan dalam IT ini, yaitu tentang tarbiyah dan Pengenalan ForkomAlims, namun karena mentok dengan dateline (halah!) sepertinya hanya tentang pembekalan kampus saja yang bisa saya ceritakan dalam kesempatan ini. Untuk materi tarbiyah mungkin akan saya coba kaji lagi dan saya tuangkan dalam blog ini di kesempatan lain. Sementara tentang Forkom (lengkapnya Forkom Alims), saya ceritakan secra singkat saja bahwa fokom ini adalah Forum komunikasi dari alumni smansa Bogor yang bergerak dalam bidang pembinaan keislaman bagi siswa-siswi smansa dengan tujuan terwujudnya kehidupan yang islami di smansa Bogor melalui kegiatan-kegiatan seperti mentoring, IT, dan berbagai kegiatan pengembangan diri dan wawasan keislaman lainnya.

Aah... sekian dulu ya!
Wassalamualaikum.
(23.15_080802)